3 Jenis Dorongan Kenapa Seseorang Mau Melakukan Suatu ‘Kebaikan’, Pastikanlah Jenis Doronganmu Benar

3 Jenis Dorongan Kenapa Seseorang Mau Melakukan Suatu 'Kebaikan', Pastikanlah Jenis Doronganmu Benar

Suatu kebaikan itu tidak berdiri sendiri.

  • Tidak ada orang yang ujuk-ujuk ingin senyum hanya karena memang yah ingin senyum saja.
  • Tidak ada orang yang ujuk-ujuk ingin jujur hanya karena memang yah ingin jujur saja.
  • Tidak ada orang yang ujuk-ujuk ingin sholat hanya karena memang yah ingin sholat saja.

Sejatinya, setiap perbuatan kebaikan itu ada pendorongnya. Setiap kita yang hendak melakukan kebaikan, pasti memiliki motivasi latar belakang, apa yang membuat kita hendak melakukan hal tersebut?

  • Bisa jadi ada banyak orang sama-sama melakukan sholat, namun masing-masing dari mereka memiliki latar belakang motivasi yang berbeda-beda
  • Bisa jadi ada banyak orang yang sama-sama suka menolong nenek-nenek menyeberang jalan, namun masing-masing dari mereka memiliki latar belakang motivasi yang berbeda-beda

Nah, setidaknya, ada 3 motivasi pendorong kenapa seseorang hendak melakukan sesuatu itu. Berikut ini dia.

1. Dorongan fisik-materi (Quwwah madiyah)

Dorongan ini biasa dikenal dengan istilah “pamrih”. Orang-orang yang memiliki dorongan seperti ini, hanya akan mau melakukan ‘kebaikan’, kalau ada imbalan keuntungan saja. Bila tidak ada, maka dia tidak mau.

Maka, sejatinya dorongan ini merupakan dorongan yang amat lemah. Orang-orang yang seperti ini, sangat mudah dikalahkan perjuangannya, dan sangat mudah dihancurkan konsistensinya.

Misalnya, seorang pemuda yang dia melihat ada seorang nenek-nenek sedang berdiri di trotoar pinggir jalan yang hendak menyeberang.

Awalnya dia tidak peduli dengan nenek-nenek tersebut. Namun, dia teringat bahwa sebelumnya saat Idul Fitri, nenek itu pernah memberikan THR banyak kepadanya. Pernah juga di lain hari sekadar silaturahmi saja bersama keluarga, dirinya dikasih duit juga oleh nenek-nenek tersebut. Sehingga, karena teringat hal itu, dia jadi kepingin membantu nenek-nenek tersebut menyeberang, sambil berharap semoga nanti setelah membantu, maka akan dikasih duit.

Nah, namun, ternyata, setelah nenek tersebut berhasil dibantu menyeberang, nenek tersebut hanya berterima kasih saja tanpa ada memberi uang. Maka, sang pemuda tersebut pun menyesal telah membantu nenek tersebut, karena tidak dapat imbalan uang.

Contoh lain, ada seorang bocah yang hendak puasa Ramadhan. Karena, orang tuanya menjanjikan bila dia puasa satu hari, maka akan diberi THR Rp10.000. Bila sebulan penuh, maka akan diberi THR sekitar Rp300.000. Namun, bila dia tidak dijanjikan hal tersebut, maka dia tidak berpuasa.

Contoh lain, ada seorang pedagang. Dia suka senyum, karena menurut teori marketing kalau senyum biasanya bisa banyak pembeli. Namun, ternyata, teori itu tidak berhasil dia praktekkan. Sudah senyum, penjualannya gitu-gitu aja, malah menurun. Akhirnya, dia coba melakukan tipu-tipu saja supaya penjualannya naik. Maka, beneran ternyata setelah melakukan tipu-tipu, jadi penjualannya naik.

2. Dorongan perasaan emosi (Quwwah ma’nawiyah)

Dorongan ini biasa dikenal dengan istilah “iba”. Kadang juga bisa disebut ‘baper’, hehehe.. Orang-orang yang memiliki dorongan seperti ini, sangat mudah terdorong untuk melakukan ‘kebaikan’, bahkan bisa mati-matian melakukannya, kalau emosi perasaannya sudah tersentuh, bahkan memuncak. Namun, sebaliknya, bisa pula dia berhenti seketika bila emosi itu sudah berubah atau menghilangkan.

Artikel Lainnya:  Membanding-Bandingkan Diri Seseorang dengan Orang Lain? Jangan Sembarangan Lho! Harus Pakai Ilmunya

Maka, sejatinya dorongan ini merupakan dorongan lemah juga. Meski kadang bentuk perbuatannya bisa membuatnya jadi sangat bersungguh-sungguh bahkan mati-matian. Namun, yang namanya emosi perasaan itu sangat mudah berubah-ubah, sehingga bisa dengan seketika pula dia berhenti melakukannya, bahkan berbalik menjauhi dan melawannya.

Misalnya, seorang pemuda yang dia melihat ada seorang nenek-nenek sedang berdiri di trotoar pinggir jalan yang hendak menyeberang.

Dia merasa kasihan dengan nenek tersebut, kenapa tidak ada yang membantunya menyeberang? Sepertinya tubuh nenek tersebut gemetaran, seperti susah mau menyeberang.. 🙁 apalagi ini langit mendung mau hujan… 🙁 duh, kasihan banget nenek itu kalau sampai kehujanan nggak ada yang peduli.. :'(

Maka, dengan seketika dia langsung membantu nenek-nenek tersebut untuk menyeberang jalan, karena merasa kasihan..

Namun, sesampainya di seberang, nenek-nenek tersebut malah justru memarahi sang pemuda tersebut. Bukannya berterima kasih, sang nenek malah ngomel, “Kamu ini lama banget datangnya! Nggak tahu diri kamu ini ya! Seharusnya dari tadi dong! Aku capek berdiri tersebut dari tadi!”. Maka, sang pemuda tersebut pun menyesal telah membantu nenek tersebut, karena bukannya disambut ramah malah justru disemprot jutek.

Contoh lain, ada seorang mahasiswa yang biasanya tidak sholat. Suatu ketika, dia keluar dari kelasnya hendak pulang ke Kostan. Namun, tiba-tiba saat di aula, dia bertemu dosen agamanya yang mengajaknya untuk sholat, karena kebetulan sedang adzan dzuhur. Maka, jadi ikut sholatlah dia. Namun, esok-esoknya, bila dia tidak bertemu dengan dosennya tersebut, dia tidak sholat. Jadi, dia sholatnya karena emosi perasaan nggak enakan dengan dosennya saja.

Contoh lain, ada seorang pejabat. Suatu ketika, dia mendapatkan ide untuk melakukan korupsi, supaya dapat uang buat balik modal kampanye. Tetapi, dia tidak mau melakukan hal itu karena nanti takut dicemooh orang-orang bila ketahuan. Namun, di lain waktu, istrinya malah marah-marah minta uang banyak namun sang suaminya tak punya. Sehingga, ide korupsi sebelumnya tersebut pun ia jalankan, supaya bisa memberi uang pada istrinya agar senang tidak marah-marah lagi.

3. Dorongan keimanan (Quwah ruhiyah)

Dorongan ini biasa dikenal dengan istilah “Ikhlas”. Orang-orang yang memiliki dorongan seperti itu, senantiasa melakukan kebaikan, dalam rangka mencari ridha Allah.

Dia paham betul selama 24 jam, bahwa sejatinya dia adalah makhluk ciptaan Sang Khaliq. Dia diciptakan, berada di dunia, tujuannya untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Kemudian, setelah mati, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh aktivitasnya di dunia. Akhirnya ia akan diberi ganjaran nikmat di Surga, dan/atau siksa di Neraka.

Maka dari itu, dia akan senantiasa melakukan sebuah kebaikan, walau tak mendapatkan imbalan nikmat materi dan fisik di dunia. Pun, rasa emosi tidak dapat menghentikan perubuatan baiknya tersebut, apabila ada perasaan tidak enak saat melakukannya. Inilah dorongan yang terkuat.

Artikel Lainnya:  23 Hukum Seputar Puasa yang Wajib Anda Ketahui, Pelajarilah Agar Tak Keliru

Misalnya, seorang pemuda yang dia melihat ada seorang nenek-nenek sedang berdiri di trotoar pinggir jalan yang hendak menyeberang.

Melihat fakta tersebut, maka langsunglah connect di memorinya beberapa ayat al-Qur’an dan hadits, sehingga dia terdorong harus membantu nenek-nenek tersebut, tidak boleh dibiarkan. Dan insyaAllah kalau membantu, dia bisa dapat pahala.

Maka, dengan seketika dia langsung membantu nenek-nenek tersebut untuk menyeberang jalan.

Kalau sudah, maka dia bersyukur saja. Dia tidak peduli apakah nenek itu akan memberikan imbalan uang atau tidak. Pun dia tidak peduli apakah nenek tersebut berterima kasih atau justru malah jutek. Yang dia pikirkan adalah semoga niat ikhlasnya dicatat oleh malaikat dan dibalas oleh Allah saja.

Contoh lain, ada seorang pemuda. Suatu ketika dia mendapatkan tawaran bisnis baru dengan teknik marketing yang unik pula. Maka, seketika itu dia bertanya terlebih dahulu, bisnis seperiti itu hukumnya apa? Boleh atau nggak? Halal atau haram? Sudah adakah ulama mujtahid yang menjelaskan proses penarikan hukum dari dalil-dalil syara’ terhadap fakta bisnis itu? Kalau ternyata boleh, okey ayo jalankan. Kalau tidak boleh, maka coba buat gimana agar jadi boleh bila memungkinkan. Kalau tidak boleh mutlak, maka tinggalkan saja, tidak usah diikuti.

Yang mana dorongan yang layak kita gunakan? Tentu saja dorongan keimanan! Yakni ruhiyah!

Iya, begitulah. Sejatinya, setiap perbuatan itu memiliki 3 jenis dorongan, seperti yang dijelaskan di atas. Sebagai seorang muslim, apalagi yang masih sehat akalnya, haruslah kita senantiasa melakukan sesuatu hanya dengan dorongan keimanan saja. Tidak ada urusan dengan materi, emosi perasaan, dan sebagainya.

Meski apapun nilai perbuatan yang hendak kita capai, tetap harus dorongannya adalah keimanan:

  • Dalam perbuatan yang nilai tujuannya adalah materi, seperti bisnis dan kerja; kita terdorong melakukan itu karena Allah mewajibkan kita untuk mencari nafkah dan membayar hutang, dan selama prosesnya pun senantiasa terikat dengan hukum syara’.
  • Dalam perbuatan yang nilai tujuannya adalah kemanusiaan, seperti menolong dan membantu orang lain; kita terdorong melakukan itu karena Allah memerintahkan kita, dan selama prosesnya pun senantiasa terikat dengan hukum syara’.
  • Dalam perbuatan yang nilai tujuannya adalah akhlaq, seperti ramah dan santun; kita terdorong melakukan itu karena Allah memerintahkan kita, dan selama prosesnya pun senantiasa terikat dengan hukum syara’.
  • Dalam perbuatan yang nilai tujuannya adalah spiritual, seperti sholat dan puasa; kita terdorong melakukan itu karena Allah mewajibkan kita, dan selama prosesnya pun senantiasa mengikuti ketentuan yang ada dan ikhlas.

Sumber gambar ilustrasi: Pixabay.com

BAGIKAN
Dani Siregar
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar