Cara Bersyukur Itu Bukan Sekadar Berucap “Alhamdulillah”, Tapi Juga Bertaqwa PadaNya

Bersyukur Itu Bukan Sekadar Berucap

“Alhamdulillah..” biasa kita ucapkan sebagai bentuk rasa syukur. Misalnya:

  • Bersyukur, bisa memakan makanan yang enak
  • Bersyukur, bisa beli gadget yang bagus
  • Bersyukur, karena lulus kuliah
  • Bersyukur, karena gajian
  • Dan lain-lainnya..

Sebetulnya kebiasaan mengungkapkan hamdalah tersebut merupakan kebiasaan yang bagus. Hanya saja, sebagian dari kita bisa jadi belum termasuk orang yang benar-benar bersyukur, kalau ungkapan tersebut hanya sekadar perkataan saja tanpa pemahaman.

Ada dijelaskan oleh Syaikh Ismail Haqqi dalam Tafsir Ruh Al-Bayan, ketika menafsiran QS Al-Kaustsar, bahwa syukur itu diwujudkan dengan hati, lisan dan perbuatan.

  • Syukur dengan hati adalah mengetahui bahwa berbagai kenikmatan tersebut berasal dariNya juga dari yang lain.
  • Syukur dengan lisan adalah dengan memuji dan menyanjung memberi nikmat.
  • Sedangkan bersyukur dengan pebuatan adalah dengan menggunakan kenikmatan tersebut dengan bersikap loyal dan rendah hati terhadapNya.

Maka dari itu, seharusnya kita jangan sekadar berkata “Alhamdulillah”. Namun, lebih dari itu, bentuk rasa syukur kita harus ada pada hati, lisan, dan perbuatan.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Syaikh Abdur Rahman Al Sa’di dalam tafsirannnya, Taysir Al Karim Al Rahman. Bahwa, al-syukr adalah pengakuan hai terhadap nikmat-nikmat Allah, MemujiNya atas kenikmatan tersebut, dan menggunakannya dalam keridhaan Allah SWT.

Imam Al-Zamakhsyari mengatakan dalam Al-Kasysyaf, bentuk syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk keimanan yang bersih dan amal shalih.

Syaikh Sahal Bin Abdullah, sebagaimana dikutip Al -Qurthubi dalam tefsirnya, upaya sungguh-sungguh dalam ketaatan disertai dengan meninggalkan kemaksiatan, baik dalam keadaan sepi maupun ramai.

Bersyukur sejati itu, pasti bertaqwa

Nah, terkait syukur dalam bentuk perbuatan, ini nih yang mungkin saat ini nggak banyak orang yang mengamalkannya. Misalnya…

  • Barusan beli handphone baru? Maka cara mensyukurinya bukan sekadar berkata “Alhamdulillah”, namun juga gunakan handphone tersebut untuk ketaqwaan. Misalnya untuk nonton video ceramah, untuk koordinasi agenda dakwah, untuk baca kitab tsaqafah, untuk menulis status dakwah di socmed, dan sebagainya.
  • Barusan lulus SMA?  Maka cara mensyukurinya bukan sekadar berkata “Alhamdulillah”. Namun, gunakanlah ilmu yang didapat dari Sekolah tersebut untuk meningkatkan ketaqwaan.
  • Barusan wisuda kuliah? Maka cara mensyukurinya bukan sekadar berkata “Alhamdulillah”, namun juga gunakan ilmu-ilmu dan gelar tersebut untuk ketaqwaan, memajukan peradaban Islam, berkontribusi pada keperluan umat, dan sebagainya.
  • Barusan dapat banyak duit? Maka cara mensyukurinya bukan sekadar berkata “Alhamdulillah”, namun juga hadirkan perbuatan taqwa. Misal, dipakai buat menafkahi keluarga, buat membayar hutang, buat sedekah, dan sebagainya.
  • Barusan beli kendaraan baru?  Maka cara mensyukurinya bukan sekadar berkata “Alhamdulillah”, namun juga gunakanlah kendaraan tersebut untuk meningkatkan ketaqwaan. Misalnya buat antar-jemput jamaah majelis ta’lim, dan sebagainya.
  • Punya banyak waktu luang? Enak kan? Patut disyukur kan? Gunakanlah untuk ketaqwaan.
  • Tubuh sedang sehat? Enak kan? Patut disyukur kan? Gunakanlah untuk ketaqwaan.
  • Usia masih muda? Enak kan? Patut disyukur kan? Gunakanlah untuk kertaqwaan
Artikel Lainnya:  Apa Bukti Kebenaran Al-Qur'an? Beginilah Penjelasannya

Iya, intinya, bentuk syukur itu bisa diwujudkan dengan hati, lisan, dan perbuatan. Kalau dengan hati, yah gumamkan secara ikhlas di dalam hati. Kalau dengan lisan, yah ucapkan hamdalah. Kalau dengan perbuatan, yah tingkatkan ketaqwaan.

Makanya aneh kalau ada orang yang baru lulus SMA, kok bukannya malah tambah bertaqwa, tapi malah tambah bejat. Malah coret-coret baju yang masih bagus, minum khamr, pesta ikhtilat, konvoi yang meresahkan, dan sebagainya.

Dan aneh juga tatkala ada oknum calon pejabat yang hendak kampanye, pada awal-awal pidato dia bilang, “Marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala..” tapi malah tak mau menerapkan syariat Islam. Aneh~ Ngomong bersyukur doang, tapi nggak paham makna syukur itu apaan. Gimana nggak kena adzab…??

Nah, yang tingkatkan ketaqwaan ini nih yang jangan sampai dilupakan! Sayangnya mungkin banyak yang belum sadar. Maka dari itu, sadarlah.

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“…Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Pokoknya, apapun kenikmatan yang Anda dapatkan yang hendak Anda syukuri, jangan lupa, setelah itu tingkatkanlah ketaqwaan. Kalau selama ini kita belum begitu mampu mengerjakan apa yang Allah perintahkan, maka kini kudu lebih diusahakanlah agar setiap apa yang Ia perintahkan senantiasa kita kerjakan. Begitu pula bila selama ini kita belum mampu meninggalkan sebagian laranganNya, maka sekarang lebih diusahakanlah agar bisa. Nah, itulah tanda syukur sejati. Yakni, bertaqwa.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

BAGIKAN
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar