Kenapa Kita Berbuat Maksiat? Apa Karena Nafsu? Syaithan? Atau Apa?

Kenapa Kita Berbuat Maksiat Apa Karena Nafsu Syaithan Atau Apa
Sumber ilustrasi: Pixabay.com

Terkadang atau bahkan mungkin setiap hari kita ada melakukan dosa. Seperti misalnya berbohong, berbuat kasar ke orang lain, dan sebagainya.


Kenapa bisa seperti itu?

Apakah karena kita mengikuti hawa nafsu kita?

Atau karena kita dibisikin oleh syaithan?

Atau apa?

Sebelum membahas itu, ada baiknya kita berangkat dari fakta manusia terlebih dahulu, sedikit mengulang pembahasan pada artikel “Hakikat Manusia” sebelumnya.

Nah, jadi… Setiap manusia -siapapun dia, hidup di zaman kapan pun, di mana pun- normalnya memiliki 5 hal berikut ini:

  1. Kebutuhan hajat
  2. Naluri mempertahankan eksistensi diri
  3. Naluri iba melestarikan manusia
  4. Naluri mengkuduskan
  5. Akal

Maka, adapun setiap aktivitas-aktivitas harian manusia itu merupakan dalam rangka memenuhi kebutuhan hajat dan nalurinya. Mungkin istilah lainnya kebutuhan dan keinginan.

Nah, kebutuhan dan keinginan itu termasuk nafsu.

Menurut Ibn Manzhur dalam Lisân al-‘Arab, makna hawâ an-nafsi adalah keinginan jiwa.

Jadi, sebenarnya nafsu itu bukanlah sesuatu yang buruk. Nafsu itu yah bagian dari potensi hidup manusia itu sendiri.

Hanya saja, kebutuhan dan keinginan tersebut dapat dipenuhi dengan berbagai macam ‘cara’.

Misalnya, seseorang merasa lapar. Nah, bagaimana ‘cara’ dia memenuhi dorongan kebutuhannya tersebut?

  • Apakah dengan langsung mencuri makanan orang lalu memakannya?
  • Atau bekerja dulu, lalu dapat uang, kemudian membeli makanan, lalu memakannya?
  • Makanannya pun apakah daging ayam atau daging babi?
  • Daging ayamnya pun apakah disembelih dengan basmallah atau tidak?
  • Makannya dengan tangan kanan atau tangan kiri?

Tentu ada beraneka ragam pilihan ‘cara’ yang bisa dipakai, untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dan ‘cara-cara’ itu tentu tak lepas dari semacam suatu keyakinan, agama, dan ideologi. Kita sebut saja ‘cara’ itu adalah hukum.

Nah, inilah yang menjadi persoalannya.. tatkala tiba-tiba muncul kebutuhan dan keinginan pada diri kita, hukum seperti apa yang kita gunakan untuk memenuhinya?

Sebagai seorang muslim, tentu hukum itu tidak lain dan tidak bukan adalah syariat Islam. Yakni; kita harus menggunakan ‘cara-cara’ yang diwajibkan, dianjurkan, dan dibolehkan Allah tentunya. Tidak boleh menggunakan ‘cara-cara’ yang justru diharamkan.

Artikel Lainnya:  Kalau Dirimu Belum Cocok dengan Islam, Menangislah... Jangan Islamnya yang Ditolak...

Misalnya ‘cara-cara’ yang diharamkan adalah hukum khusus agama tertentu selain Islam, hukum khusus ideologi tertentu selain Islam, serta hukum khusus pada pemahaman dan keyakinan yang bertentangan dengan Islam.

Bagi seseorang yang tidak mau menggunakan ‘cara-cara’ Islam, terlebih lagi dia tidak mau ribet dan mumet mikirin ‘cara-cara’ apapun, maunya langsung ‘terkam’ saja; itulah contoh orang yang hanya sekadar mengikuti hawa nafsunya semata. Seperti halnya hewan.

Adapun dorongan seseorang untuk memilih hukum yang sesat ataupun nafsu semata; itu berasal dari memang pilihannya sendiri. Dia mengambil pilihan salah itu bisa jadi karena semata-mata menggunakan nafsunya, atau karena sedikit-banyak ada bisikan syaithan yang memicunya; sembari tak mau menggunakan akalnya untuk mengikuti wahyu.

Sejatinya, setiap dari kita memiliki akal. Yakni kemampuan untuk mengindera fakta, kemudian menghubungkan fakta itu dengan informasi-informasi yang tersimpan di otak. Nah, termasuk sebelum berbuat sesuatu, pasti kita bisa mengingat mana perbuatan yang benar (mengikuti wahyu) dan mana perbuatan yang salah (tak mengikuti wahyu).

Maka dari itu, Allah itu sungguh adil. Kelak di Akhirat, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan yang kita pilih. Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas khasiat tubuh kita, juga tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas bisikan-bisikan syaithan. Yang dimintai pertanggungjawaban hanyalah perbuatan kita sendiri saja.

Kesimpulannya

Jadi, jelaslah… kenapa kita berbuat maksiat itu adalah murni pilihan kita sendiri. Bila kita tak ingin bermaksiat, maka yah jangan kita pilih.

Nafsu itu hanyalah bagian dari potensi hidup kita, yang tentu tak boleh dibiarkan liar. Melainkan harus diatur oleh wahyu.

Sedangkan syaithan itu bisa berbentuk jin maupun manusia yang suka mengajak kita agar membiarkan nafsu menjadi liar, atau mengajak kita agar memenuhi tuntunan nafsu dengan ‘cara-cara’ selain Islam.

Artikel Lainnya:  7 Cara Menghilangkan Sakit Hati Menurut Islam

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al-Mu’minun: 71)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf: 179)

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR. al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim, dan al-Hasan bin Sufyan)

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam mengatakan:

“Jadi yang wajib bagi setiap Mukmin adalah mencintai apa yang dicintai Allah SWT dengan kecintaan yang mengantarkan dirinya melakukan apa yang diwajibkan. Jika kecintaan itu bertambah sehingga ia melakukan apa yang disunnahkan maka itu adalah keutamaan. Setiap Muslim juga hendaknya tidak menyukai apa yang tidak disukai oleh Allah SWT dengan ketidaksukaan yang mengantarkan dirinya menahan diri dari apa yang Allah haramkan atas dirinya. Jika ketidaksukaan itu bertambah sehingga mengantarkan dirinya menahan diri dari apa yang dimakruhkan Allah, maka itu merupakan keutamaan.”

Bagaimana menurut Anda?

Komentar

BAGIKAN
Dani Siregar

Marketing TeknikHidup.