Perbuatan Baik itu Harus Didasari Iman. Jangan Pamrih, dan Jangan Sekadar Emosi

Perbuatan Baik itu Harus Didasari Iman. Jangan Pamrih, dan Jangan Sekadar Emosi
Sumber ilustrasi: Wikimedia.org

Yah, pastikanlah setiap dorongan kenapa kita melakukan perbuatan baik, adalah semata-mata karena Allah saja. Dalam rangka untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala semata.

  • Kenapa kita sholat? Karena Allah memerintahkan kita untuk sholat.
  • Kenapa kita menutup aurat? Karena Allah memerintahkan kita untuk menutup aurat.
  • Kenapa kita tidak memakan babi dan meminum khamr? Karena Allah memerintahkan kita untuk tidak memakan babi dan meminum khamr.
  • Kenapa kita membantu orang lain? Karena Allah memerintahkan kita untuk membantu orang lain.

Jadi, semua perbuatan kita itu yah karena dorongan iman saja. Cukup itu saja, kita sudah bahagia.

Namun, sayang sekali, terkadang ada orang yang dorongan perbuatannya bukan karena iman, atau tidak murni karena iman.

  • Ada yang melakukan kebaikan, karena pamrih berharap kebaikannya akan dibalas orang lain.
  • Ada yang melakukan kebaikan, karena merasa kebaikannya itu ternyata ada manfaat biologisnya dan psikologisnya.
  • Ada yang melakukan kebaikan, hanya karena rasa kasihan dan kemanusiaan semata.
  • Ada yang melakukan kebaikan, karena agar dipuji-puji dan dianggap hebat oleh orang lain.

“Emangnya kenapa kalau seperti itu?” Yah itu namanya tidak ikhlas. Ikhlas itu kan semata-mata hanya karena Allah saja. Wallahua’lam apakah dapat pahala atau tidak. Bisa jadi pahalanya tidak sempurna, atau bahkan tidak dapat pahala sama sekali.

Selain terancam tak dapat pahala, sesungguhnya perbuatan baik yang dasarnya bukan iman tersebut juga tak akan langgeng, dan kekuatannya sangat lemah. Mari kita coba simak 2 contoh berikut, yakni orang yang beribadah dan orang yang membantu orang lain.

Contoh orang yang beribadahnya nggak ikhlas

 

Banyak orang yang melakukan sholat, puasa, dan sebagainya. Namun, bisa jadi dorongan mereka berbeda-beda. Beberapa diantaranya:

1. Yang beribadah karena rasa nggak enakan dengan orang lain

Sudah bukan rahasia lagi, ada orang yang sholat kalau dimarahin orang tuanya saja, ketika ada dosen agamanya, ketika ada ustadznya, dan ketika ada mertuanya saja. Namum, di lain waktu ia tidak sholat ketika sedang tidak ada orang tuanya, dosen agamanya, ustadznya, dan mertuanya.

Atau ada yang memang selama ini sholat selalu, tapi kualitas sholatnya biasa-biasa saja atau bahkan buruk. Kualitas sholatnya bagus hanya kalau sedang ada orang tuanya, dosen agamanya, ustadznya, dan mertuanya.

Artikel Lainnya:  8 Bukti Sebenarnya Problem Utama Ekonomi Bukanlah Kelangkaan, Melainkan Sistem Distribusi

2. Yang beribadah karena pamrih materi

Pernah lihat anak-anak yang puasa Ramadhan karena dijanjikan THR dan baju baru semata? Banyak. Nah, itulah contoh ibadah karena dorongan materi.

3. Yang beribadah karena manfaat psikologis

Contoh lain.. Ada lho fakta orang atheis yang nggak percaya ada Tuhan, tetapi dia sholat. Iya, ada. Ini fakta. Ketika ditanya kenapa kamu kok sholat, dia bilang karena sholat itu rasanya enak. Kalau memang lagi pingin sholat, yah dia sholat. Kalau dia lagi pingin hal enak yang lain, maka dia cari hal yang lain itu. Nah, itulah contoh ibadah karena dorongan manfaat psikologis.

4. Yang beribadah karena manfaat biologis

Contoh lain, ada juga orang yang nggak sholat, tapi dia suka wudhu. Karena, baginya wudhu itu bisa membuat kulit senantiasa sehat dan bersih. Nah, itulah contoh ibadah karena dorongan manfaat biologis.

Sumber ilustrasi: Pixabay.com

Dan masih banyak contoh ibadah tak ikhlas lainnya. Sejatinya, yang benar adalah beribadah semata-mata karena dorongan perintah Allah.

Contoh orang yang menolong orang lain, tapi tak ikhlas

Nah, jangan salah paham. Banyak macam-macam orang yang menolong orang lain, namun ternyata dasar dorongan mereka berbeda-beda. Sehingga, dampaknya kemudian pun berbeda-beda. Diantaranya:

1. Yang membantu orang lain, karena berharap imbalan

Misalnya, ada seseorang yang hendak membantu nenek-nenek untuk menyeberang jalan. Kenapa dia mau melakukan hal tersebut? Karena dia teringat dia pernah beberapa kali diberi hadiah oleh nenek tersebut. Lagian nenek tersebut juga orang kaya. Nah, makanya dia membantu nenek tersebut, supaya semoga dapat imbalan. Alias, pamrih.

Padahal, kalau memang mau menolong, bukan jual jasa, yasaudah tolong saja. Kalau dorongan pertolongannya hanya sekadar imbalan materi, maka selain bisa tak dapat pahala, maka pertolongannya tersebut tak langgeng dan tak optimal. Bisa jadi ketika apa yang ia harapkan tak dapat, maka ia menyesal telah melakukan tersebut, sehingga besok ia tak mau menolong orang lain lagi.

Artikel Lainnya:  Hidup itu Bukan Soal Agar Bisa Banyak-Banyak Santai, Tapi Soal Agar Capek Setelah Melakukan Kebaikan

2. Yang membantu orang lain, karena perasaan emosi semata

Misalnya, ada juga seseorang yang hendak membantu nenek-nenek untuk menyeberang jalan. Kenapa dia mau melakukan hal tersebut? Karena dia merasa kasihan dengan nenek tersebut.

Nah, ada baiknya pun jangan bergerak hanya karena dorongan sekadar rasa perasaan dan emosi kasihan. Itu belum murni ikhlas. Lagi pula, bisa jadi, ternyata setelah nenek tersebut berhasil dibantu nyeberang, baru tahu bahwa nenek tersebut rada jutek. Bukannya berterima kasih, malah nenek itu ngomel, “Kamu ini lama benget datangnya! Harusnya itu bantu nenek nyeberang dari tadi dong!”. Maka orang yang membantu tersebut pun menyesal, dan sebal, lalu besok-besok nggak mau membantu nenek itu lagi.

Sumber ilustrasi: Flickr.com

Dan masih banyak contoh bantuan tak ikhlas lainnya… Sejatinya, yang benar adalah menolong orang lain semata-mata karena dorongan perintah Allah.

Intinya, ingat hisab di Akhirat kelak! Bayangkan bila beberapa saat kemudian kita meninggal dunia. Pastilah kita berbuat baik semata-mata karena dorongan iman saja kan? Tak peduli pamrih dan emosi

Yups, intinya, pastikanlah setiap perbuatan kita itu bernilai ruh. Yakni, kesadaran bahwa kita ini adalah makhluk ciptaan yang Sang Khaliq, yang tujuan hidup kita adalah menjalankan semua perintahNya serta menjauhi semua laranganNya.

Sehingga, bila kita hendak berbuat baik dan memperjuangkan kebaikan; maka dorongan perbuatan baik itu semata-mata karena perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan karena agar dapat imbalan materi, manfaat psikologis, manfaat biologis, perasaan emosi, fanatik ras bangsa, kemanusiaan, dan sebagainya. Melainkan ikhlas mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala semata.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

[QS. al-Bayyinah: 5]
BAGIKAN
Dani Siregar
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar