257 Hal Tentang Kota Medan, yang Bikin Nostalgia Pingin Balek ke Medan

Medan memang punya cerita unik. Kok bisa, salah satu sebabnya, karena bahasa Medannya itulah. Yang mana bahasa seperti itu tidak ada di luar sekitar Medan, dan Sumatera Utara.

Tentunya keunikan itu meninggalkan bekas di hati, khususnya bagi diri mereka sendiri yang asli lahir di Medan, besar di Medan, dan tinggal cukup lama di Medan.

Nah, berikut ini merupakan 257 hal nostalgic tentang Medan, yang pasti bakal bikin Anda jadi rindu pingin pulang ke Medan.

1. Nyebut Motor itu Kereta

Kalau di luar Medan, kendaraan berroda dua itu disebut motor. Namun, kalau di Medan, kendaraan berroda dua itu biasa disebut kereta.

“Coy awak pinjemlah keretamu dulu bentar..”

Namun, justru motor itu artinya mobil. Hanya saja memang kalau mobil lebih sering dan biasa disebut mobil, daripada nyebut motor.

Kalau kereta yang bergerbong itu, disebut kereta api.

2. Penggunaan satu kata “Apa” yang memiliki seribu makna

Yah, itulah mantapnya kata “Apa”, bisa dipakai buat apa saja. Misalnya:

  • “Woi apa, cok ko apakan dulu apanya itu. Biar apa dikit dia, ini apa kali kurasa..”
  • “Ko apakan adekmu itu ha..?”
  • “Kemanalah apanya itu ya..?”
  • “Apakan dulu dikit bajumu itu..”

Kata “apa” tersebut bisa memiliki banyak arti, tergantung konteks kalimatnya. Dan bisat menjadi kata ganti apa saja; baik itu kata ganti subjek, objek, orang, benda mati, kata kerja, kata sifat, keterangan tempat, keterangan waktu, dan sebagainya. Dan yang hebatnya, masing-masing pembicara dan pendengar sama-sama ngerti apa maksud apanya itu. 😀

Terjemahannya:

  • “Woi Farhan, coba Kau perbaiki dulu kipas anginnya itu. Biar dingin dikit dia, ini panas kalu kurasa..”
  • “Ko apakan adekmu itu ha..?” maksudnya, “Apa yang kamu lakukan terhadap adikmu itu..?”
  • “Kemanalah apanya itu ya..?” maksudnya mencari sesuatu yang hilang. Misalnya, kemana guntingnya itu..?
  • “Apakan dulu bajumu itu..” maksudnya, rapihkan dulu.

3. Nyuruh ngerjain sesuatu dengan kata “Bikin” atau “Buat”

Saat handphonenya lagi rusak, kemudian mau diperbaiki ke temannya, maka dia bilang:

“Cak buatkan lah dulu handphone-ku ini jadi bagus lagi..”

Maksudnya bukan membuat sesuatu, tapi artinya mirip dengan “apakan” di atas, khusus buat kata kerja. Sederhanya, “buat” dan “bikin” itu merupakan kata perintah untuk mengerjakan sesuatu, meski belum tentu pekerjaan untuk membuat sesuatu.

4. Menyingkat kata “Coba” menjadi “Cak” atau “Cok”

Contohnya:

  • “Coba Kamu cicipi dulu soto ini..” > “Cak ko rasa dulu sotonya ini..”
  • “Coba Kamu angkat dulu..” > “Cok ko angkat dulu..”

5. Turun dari angkot dengan menyebut “Pinggir Bang”, bukan “Kiri Bang”

Iya, saya pribadi saat di Aceh, Bandung, Depok, dan Jakarta, kalau mau turun dari angkot, bilang ke abang supirnya “Kiri Bang..”. Nah, hanya di Medan, yang cara bilang nyebut berhentinya, “Pinggir Bang!”

6. Plesetan tempat-tempat di Medan menjadi tempat-tempat yang di luar Medan

Beberapa di antaranya:

  • Amsterdam: Amplas masuk ke dalam, seputaran terminal Amplas
  • Bandung Band:ar selamat ujung, seputaran Jl. Letda Sudjono ke arah Tembung
  • KL: Kampung Lalang
  • Maryland: Marelan
  • Meksiko: Medan simpang kolam
  • Turki: Tuntungan belok kiri
  • UNPAD: Universitas Paling Dekat.
  • WTC: Wilayah Tembung City

7. Bandara Kualanamu yang ntah di mana domisilinya

Bandara Kualanamu itu bukan terletak di kota Medan, tapi di Kabupaten Deli Serdang. Anehnya, announcer di pesawat bilang “Selamat datang di Kualanamu Medan.”

Bagi Anda yang sudah lumayan lama nggak ke Medan, mungkin terakhir kali tahunya Bandara Polonia, waktu Bandara Kualanamu belum beres. 🙂

8. Pajak itu Pasar, Pasar itu jalan

“Nak, Jagain adek bentar ya. Mamak pergi belanja ke Pajak dulu ya..”

“Di sini aja kelen maen-maen, jangan Pasar nanti ditabrak mobil kelen!”

9. Nyebut air putih itu teh, nyebut teh itu teh manis, kalau tehnya nggak pakai gula itu teh pahit

Pas lagi sakit, disuruh, “Ambil dulu teh, biar minum dia..” maksudnya air putih.

Kalau air yang warna kecoklatan itu, namanya teh manis. Karena hukum asalnya bikin teh itu pakai gula. Kalau nggak pakai gula, harus dibilang. Karena itu namanya teh pahit.

10. Misteri anak Tembung

Maksud Tembung itu kan bisa Tembung yang Kecamatan Medan Tembung, bisa juga satu lagi Tembung yang terletak di Kabupaten Deli Serdang, kecamatan Percut Sei Tuan.

Katanya anak Tembung itu dia yang tinggal di Deli Serdang, bukan yang di Kota Medan. Meski katanya itu ngeles aja, aslinya yang di Kota Medan Kecamatan Tembung itu yah anak Tembung juga namanya.

Anehnya, anak Tembung yang tinggal di Kabupaten Deli Serdang, ngakunya anak Medan juga.

11. Pajak ikan: tempat jualan baju, nggak ada yang jualan ikan

Hmm…??

 12. Kue bika ambon

Ntah kenapa kue bika ambon sering dijadikan oleh-oleh khas Medan, dibeli oleh orang yang mau meninggalkan kota Medan. Padahal, orang Medan sendiri jarang makan kue bika ambon itu.

Jarang ada tempat jual kue yang jual kue bika ambon, banyaknya di tempat khas oleh-oleh. Dan jarang juga disajikan di acara-acara.

13. Laki-laki yang lebih tua dipanggil “Bang”, Perempuan yang lebih tua dipanggil “Kak”

Di luar Medan, “Kakak” itu bisa buat panggilan laki-laki maupun perempuan. Tapi, di Medan, seringnya panggilan “Kak” itu untuk perempuan.

Jadi ketika bilang, “Kakakku umurnya 24 tahun”, pasti kebayangnya perempuan. Jadi kalau orang Medan denger orang luar Medan bilang, “Kakakku umurnya 24 tahun”, bagi orang Medan kebayang pasti itu perempuan, padahal bisa jadi laki-laki. Hehehe!

Meski ada pengecualian, kata “Kakak” bisa dinisbatkan pada laki-laki, khusus untuk menyebut Kakak kelas di Sekolah dan Kampus. Di luar Sekolah dan Kampus, Kakak itu yah perempuan.

14. Nyebut Bokap itu Bos Cowok, Nyokap itu Bos Cewek

“Nggak berani aku pulang malam-malam kali lagi, nanti dimarahin Bos Cowok aku..”

“Hati-hati kalau Rusak barangku, nanti dimarahin Bos Cewek aku..”

15. “Kemarin” dan “Semalam” itu sama aja

Bagi orang luar Medan, “kemarin” itu yah hari kemarin sebelum jam 12 malam, pada tanggal sebelum tanggal hari ini. Kalau hari ini tanggal 8, maka kemarin tanggal 7. Sedangkan “Semalam” itu kemarin tanggal 7 juga, tapi khusus pada waktu langit gelap, di malam hari.

Nah, tapi, di Medan, “kemarin” dan “semalam” itu sama saja. “Semalam” itu juga termasuk kemarin pada siang hari, hehehe!

Semalam kan aku bawa, pas berangkat Sekolah..

16. Nyebut “Bagaimana” dan “Gimana” dengan kata “Macam mana”, “Macem mana”, “Cemana”, “Acem”, “Cem”

Bagaimana caranya? >> Macem mana caranya?

Gimana kabarnya? >> Cemana kabarnya?

Gimana perkembangannya? >> Acem perkembangannya?

Sebagaimana kata “Gimana” yang biasa dipakai untuk mengungkapkan kekesalan terhadap seseorang atau sesuatu, kata “Macem mana” dan “Cemana” juga bisa. Misalnya:

  • “Macem mananya cara pakainya ini?” > “Gimana sih cara pakainya ini?”
  • “Cemananya orang ini, masak gitu aja nggak bisa..” > “Gimana sih mereka, masak begitu aja nggak bisa..”

17. Katanya nggak ada, tapi ada..

Ketika ditanya, “Lagi ngapain Kau?” dijawab, “Nggak ada, duduk-duduk aja..”.

18. Lelucon THR = Tunjangan Hari Raya, ditunjang (ditendang)

Di Medan, tunjang itu artinya bisa tendang.

19. Galon itu Pom Bensin. Kalau yang wadah air mineral itu namanya Aqua Galon (Meski merknya bukan Aqua)

“Udah mau abis bensin keretaku, ke Galon aku dulu ya..”

Kasihannya orang luar Sumatera Utara, ketika dapat petunjuk jalan “Di Sebelah Galon”, dia muter-muter nggak ketemu di mana Galon. Padahal di situ ada Pom Bensin, hehehe!

20. Pantai itu tidak harus ada lautnya

Bagi orang Medan, tempat wisata sungai itu Pantai. Meski tempat wisata laut itu juga Pantai, hehehe!

21. Becak motor VS Becak mesin

Sebetulnya yang nyebut becak motor itu orang luar Medan dan sekitarnya aja. Orang Medan biasa nyebutnya Becak mesin.

22. Beberapa huruf vokal dan huruf “k” diucapkan seperti ‘ain sukun

Contohnya pada huruf vokal:

  • Kata “beli”. Diucapkan “belik” atau “beli'”
  • Kata “bunyi”. Diucapkan “bunyik” atau “bunyi'”
  • Kata “cari”. Diucapkan “carik”, atau “cari'”
  • Kata “coba”. Diucapkan “cobak” atau “coba'”
  • Kata “Mama”. Sebagian menyebutnya “Mama” seperti biasa, tapi banyak juga yang nyebut “Mamak” atau “Mama'”

Contohnya pada huruf “k”:

  • Sukses, diucapkan su’ses
  • Bakti, diucapkan ba’ti

23. Kata yang ada berdekatan huruf “a” dan “i”, hurufnya “i”-nya bisa diganti jadi “e”, atau “a” dan “i”-nya diubah jadi “e”

Contohnya:

  • Baik = baek
  • Balik = balek
  • Naik = baek
  • Kedai = kede
  • Sungai = sunge
  • Cabai = cabe
Artikel Lainnya:  10 Modus yang Biasa Dijadikan Alasan oleh si Tukang Menunda-Nunda, Waspadailah!

24. Mirip seperti yang di atas, kata yang berdekatan huruf “a” dan “u” bisa dibaca “o”. Atau, huruf “u”-nya diganti “o”

  • Bangau = bango
  • Bau’ = bo’
  • Danau = Dano
  • Gaul = gol
  • Hijau = ijo
  • Kau = ko
  • Kerbau = kerbo
  • Mau = mo
  • Kemaruk = kemarok

Mungkin poin 23 dan 24 ini juga ada di tempat selain Medan. Namun, tidak seintensif di Medan. Di Medan, nyaris selalu begitu. Nyebut “Kemarok”, nyaris nggak pernah nyebut “Kemaruk”. Nyebut “Kede”, nyaris nggak pernah nyebut “Kedai”. Kalau nyebut “Kedai”, diketawain. 😀

25. Kedai Aceh dan Kedai Sampah

Kede Aceh itu maksudnya Warung Kelontong, yang biasanya grosir, di sebuah Ruko, dan kebanyakan orang Aceh yang jualan.

Kede sampah itu warung kelontong juga, yang biasanya ada di gang-gang, jual sayur-mayur, sembako, dan sebagainya.

26. Pantun khas Medan, uwak-uwak makan salak, palak awak

Uwak-uwak itu artinya bapak-bapak atau ibu-ibu. Salak itu yah buah salak. Palak itu artinya marah. Sedangkan awak itu artinya aku.

Kosa kata lainnya:

  1. Aci = boleh? nggak/mana aci (nggak boleh..)
  2. Anak muda = jagoan, aktor pemeran utama (tokoh protagonis).
  3. Ambal = sajadah
  4. Awak = aku, saya; bisa juga kamu
    (“sombong kali awak ini”, artinya: \n”sombong banget
  5. Alip = permainan
  6. Alip cendong/benteng = permainan menjaga tiang, sementara lawan
    berusaha menyentuh tiang tersebut, sambil menghindari kejaran para
    penjaganya.;
  7. Alip berondok = petak umpet
  8. Angek = dari bahasa Minang (panas) à iri, cemburu, nggak suka
  9. Apek = panggilan buat lelaki Tionghoa yang sudah tua.
  10. Alamak = celetukan; berasal dari Alah, Mak? (aduh, Mak; waduh/Jawa)
  11. Aturan = seharusnya (aturannya tadi nggak usah kau bilang begitu)
  12. Bedangkik = hitung-hitungan, pelit
  13. Bocor alus = agak gila
  14. Bang = 1) panggilan umum buat lelaki yang lebih tua (permisi, Bang..); 2) azan (coba kau bang dulu, udah masuk waktu zuhur ni..)
  15. Belacan =terasi
  16. Bonbon/Bombon = permen
  17. Berselemak = berlepotan (ngomong kau kok berselemak gitu?)
  18. Bereng = melirik tajam (Alamak, diberengnya kita); kata serapan dari Batak?
  19. BK = plat kendaraan bermotor (Plat motor di Medan memang BK. “BK motor kau berapa?”)
  20. Balen : Minta.. ( Bagi dong?! bahasanya jadi… Balen lah…?!)
  21. Berondok = bersembunyi; ngumpet
  22. Bolong = lobang
  23. Bedogol = bego (bedogol kali kau!)
  24. Berhanyut = pergi ke hulu sungai, lalu menyusuri aliran sungai dengan berenang atau menggunakan pelampung dari ban dalam bekas.(kami beranyut dari gedong johor sampai ke polonia).
  25. Begadang; kerupuk begadang = sejenis kerupuk yang berwarna coklat, biasanya berbentuk segi empat.
  26. Baling/Baleng = rusak, ada yang tidak beres (ban keretanya kutengok baling, la? Udah kau perbaiki?)
  27. Bendol = benjol
  28. Bengap = Babak belur
  29. Campak = lempar
  30. Cakap = ngomong, berbicara (banyak kali cakapnya)
  31. Celit = pelit
  32. Cuak = penakut
  33. Cengkunek = lagak, omong kosong (jangan banyak cengkunek lah..)
  34. Cendek = plesetan dari pendek, dangkal/cetek (Airnya cendek kok, nggak usah takut tenggelam lah..)
  35. Cop = ucapan sebagai pertanda minta rehat/istirahat dulu (Aku cop ya, mau ke WC dulu).
  36. Celat = cadel (nggak bisa bilang r)
  37. Cincong =omong, alasan; Jangan banyak cincong = jangan banyak omong
  38. Cekot =julukan buat orang yang lengannya cacat, tidak bisa diluruskan, seperti ?maaf?tokoh Gareng di perwayangan).
  39. Dongok/dogol/bedogol = bodoh, pandir
  40. Dekak-dekak = abacus, alat hitung Cina dari jajaran kayu (biasanya 10 baris) yang masing-masing jajar terdiri atas 10 bola sebagai satuan hitung.
  41. Deking = beking
  42. Demon = 1) demonstrasi; demo (pak keplor didemon sama warganya sendiri..); 2) hebat, gaya (pembalap itu demon kali, ah..)
  43. Doorsmeer = tempat cuci mobil
  44. Donubi = daun ubi
  45. Enceng = selesai, habis
  46. Ecek-ecek = pura-pura (Ecek-eceknya kita ini pejabat la ya)
  47. Estra =maksudnya ekstra, preview film di televisi atau bioskop (aku belom sempat nonton di bioskop, tapi estranya udah).
  48. Gacok = jagoannya (mana gacok kau, kita adu)
  49. Guli = kelereng
  50. Gerak = berangkat
  51. Getek =genit
  52. Gaprak = dari jawa; hantam kaki dalam sepakbola atau permainan (kakinya digaprak lawan)
  53. Gedabak = besar (gedabak kali badan abang!)
  54. Gerepes = geripis, gigi yang hancur atau terkikis karena banyak makan makanan manis (Itu lah, banyak makan bonbon, akhirnya giginya gerepes semua)
  55. Gecor = besar mulut, ga bisa menyimpan rahasia
  56. Gerot = akronim dari geger otak; merujuk pada orang yang tingkahnya aneh, gila.
  57. Goni botot = julukan buat penjual atau pembeli barang-barang bekas. Mereka berkeliling kampung, membeli kompor rusak, kertas/koran bekas, dsb.
  58. Gelut = berkelahi
  59. Golek-golek = berbaring-baring santai; tidur ayam
  60. Hajab = hancur
  61. Hambus = pergi! (jauh-jauh). Kata ini suka dipakai oleh koran aspada
  62. Hubar-habir = berantakan, acak-acakan, idem
  63. Honda = sepeda motor (walaupun mereknya bukan Honda, tetap aja disebut honda, hihihi…..)
  64. Ikan laga = maksudnya ikan cupang/ikan aduan (Beta splendens)
  65. Jambu = tidak seberapa
  66. Janjalan = jalan-jalan
  67. Jelutung = kayu albasia (yang lunak dan biasa untuk bahan prakarya)
  68. Kuaci = bukan kwaci makanan, tapi permainan berupa cetakan plastik yang berbentuk beragam wujud, ada Bruce Lee, kelinci, gajah, mobil, dsb. dipakai utk mainan, juga sebagai barang taruhan.
  69. Kerepak peak = makian, mengacu pada kondisi ancur-ancuran.
  70. Kelen; kelien = kalian
  71. Kemek-kemek = makan-makan (mentraktir)
  72. Kau = engkau, anda (tidak dibaca ka-u — u dalam utang; atau kaw, tetapi di antara keduanya: kauw — w nya lemah)
  73. Kilik = mirip lego;mendrible bola (dikiliknya bola itu sampai pemain lawan terkecoh)
  74. Kede/kedai = warung
  75. Kedan = teman, sohib (Abang ini kedan kita juga)
  76. Kereta Angin = sepeda
  77. Keplor = kepala lorong
  78. Kepling = kepala lingkungan
  79. Konkawan = kawan-kawan
  80. Kongsi : Bagi-bagi, sama rata…
  81. Koyak = robek == celanaku koyak; kukoyak-koyak kertas hasil ujianku
  82. Kelir = pinsil warna (kt. benda), mewarnai (kt. kerja)
  83. Kocik = dari bahasa Melayu (?), berarti kecil
  84. Kornel = tendangan pojok/penjuru dalam sepak bola. Plesetan dari “corner”
  85. Kopek = kupas, kelupas (jangan kau kopek lukanya, nanti tambah parah).
  86. Kombur = cakap, banyak omong.
  87. Kondor \= kendor, longgar (celanaku kondor, harus dikecilkan)
  88. Lembe = lemah, lemes
  89. Lewong = 1) putus ;(layangan lewong); 2) hilang, raib (Lewong uangku disikat dia?)
  90. Litak = habis, kondisi capek sekali ? dari Padang? (Litak kali badanku)
  91. Lorong = gang (kau tinggal di lorong apa)
  92. Ligat = lincah, lihai (ligat kali dia kalo kerja)
  93. Lantak = habis; habisi (dilantaknya semua hidangan itu. Rumah itu dilantak sijago merak
  94. Lengkong = cincau hitam, buat campuran es sirop
  95. Lego = drible bola (Ronaldo jago kali ah nge-lego bola)
  96. Locak = kalah terus menerus (aih mak, locak kawan tu pas main ceki); Batu locak => sejenis permainan dengan batu pipih dengan kelereng atau benda bulat kecil lainnya. Si kalah berusaha melempar kelereng atau bolanya ke dalam lubang sasaran, sementara pemain lainya berusaha menjauhkan bola itu, atau setidaknya melempar melampaui bola, agar tidak kalah.
  97. Loak = payah (Loak kali kau pun, gitu aja nggak bisa)
  98. Lepoh = bodoh (Lepoh kali, gitu aja nggak bisa)
  99. Lobok = kedodoran, kebesaran (celananya lobok, Mak? bisa dikecilin?)
  100. Lereng = sepeda besar = sepeda janda (e pada “le” dan “reng” dibaca seperti menyebut pada kata lele)
  101. Lengger = plesetan dari tabrak (mati dia dilengger truk)
  102. Langgar =musola (Pak Haji biasa sembayang di langgar)
  103. Limpul = lima puluh (dipakai untuk menyebut uang Rp 50 atau Rp 50.000)
  104. Limrat = lima ratus (dipakai untuk menyebut uang Rp 500 atau Rp 500.000)
  105. Limper = lima perak (dipakai untuk menyebut uang Rp 5. Sekarang uang pecahan ini sudah tidak ada, jadi istilah limper pun mungkin sudah hilang).
  106. Lasak : Banyak gerak, ga bisa diam.
  107. Lencong; tai lencong = tahi ayam yang hijau, bentuknya seperti pucuk es
  108. Lokal = kelas (si Adi lagi di lokal, belum keluar)
  109. Longoh = bodoh, tolol (dasar longoh, udah tau bahaya bukannya menghindar)
  110. Lepuk = pukul (dilepuk orang sekampung dia)
  111. Mentel = genit, centil
  112. Mengkek = manja
  113. Mereng = miring, sering juga disebut mencong
  114. Merling = bercahaya, mengkilap (kalungnya merling kali..)
  115. Motor/montor = mobil
  116. Minyak lampu= minyak tanah
  117. Monza = akronim dari Monginsidi Plaza, tempat jualan pakaian bekas; mengacu pada penyebutan semua jenis barang second/bekas (celana monza ya?)
  118. Merepet = mengomel, marah
  119. Manipol = akronim dari mandailing polit = mandailing pelit /kikir; istilah stereotip suku mandailing, suku di Kab. Tapanuli Selatan. Padahal belum tentu benar.
  120. Melalak = hobinya keluar rumah, ga betah di rumah, sebuah sifat perempuan yang negatif
  121. Mentiko = belagu, sifat orang yang suka merasa paling hebat dan suka cari masalah

    sumber: sandaltjapit.blogspot.com

  122. Merajuk = ngambeg
  123. Main-main; keluar main-main = Istilah untuk jam istirahat sekolah (“Keluar main-mainnya jam berapa ya?”)
  124. Masuk angin = melempem (khusus buat makanan, kue, atau kerupuk) — kerupuknya nggak enak, udah masuk angin…
  125. Muka = depan
  126. Nona = aktris utama (siapa nonanya, Hema Malini?)
  127. Nembak = bukan menembak, atau nembak cewek, tapi istilah untuk makan tapi nggak bayar (si Ucok nembak di warung Kak Ipah).
  128. Ngeten = (dari bahasa Batak?), artinya mengintip
  129. Nokoh = dari tokoh, artinya menipu; berdusta (dia itu nokoh, jangan percaya)
  130. Ompa’an = sifat orang yang suka dibaik-baikin
  131. Os = awas
  132. Oyong = terhuyung2x, limbung
  133. ODB = tontonan gratis ala misbar (gerimis bubar); pemutaran film keliling. Biasanya diadakan tiga bulan sekali di asrama-asrama tentara atau polisi. Aslinya dari bahasa Belanda: O… Deli Bioscoop.
  134. Palar = dipaksa-paksain
  135. Pala : Ga seberapa (Contoh :Dia ga pala jahat kali lah sama aku…); dicukup-cukupkan
  136. Pesong = gila, tidak waras
  137. Pukimbek, pukilik =salan,(makian)
  138. Perli = menggoda, flirting seseorang utk menjadi pacar (Cantik kali anak gadis wak Alang tu. Kalau kuperli mau nggak dia ya?)
  139. Pening = pusing
  140. Paten = hebat
  141. Pusing = keliling
  142. Pala = perlu; terlalu begitu (Nggak pala ko kasi tau, awak dah tau. = tidak perlu kamu beritahu, saya sudah tau; nggak pala penting kalinya itu = Nggak terlalu begitu penting banget itu)
  143. Palak : Sebel, marah.
  144. Perei = libur (slang dari free)
  145. Ponten = nilai
  146. PHR = istilah untuk bioskop murahan. Singkatan dari Panggung Hiburan Rakyat (aku dulu suka nonton di PHR Morsip di Jl. Soetomo Ujung, PHR Serdang, dan PHR Bahagia di Jl. Pasar Merah)
  147. Panglong = toko tempat penjualan material bangunan
  148. Porlep = sebutan untuk kuli angkut barang di Polonia atau Pelabuhan Belawan
  149. Paret = maksudnya parit, got
  150. Pakansi= hari libur, liburan
  151. Pakpok = pulang pokok, impas (break event point)
  152. Pekak = tuli (percuma kau teriak, dia orangnya memang pekak)
  153. Pencorot =nomor urut paling akhir, pecundang (di kelas, dia pencorot)
  154. Pauk/Paok =Payah, nggak keren, bodoh (Paok kali pun kau, gitu aja
  155. Pinomat = paling tidak, minimal (“Gapapa la awak kuliah sambil kerja, pinomat bisa buat belik-belik jajan” )
  156. Rodam = siksa, dimapram (“sebelum dilantik, kami dirodam dulu semalaman)
  157. Raun-raun = jalan-jalan berkeliling (dari bahasa inggris: round-round=keliling-keliling)
  158. RBT = Ojek (RBT adalah singkatan dari Rakyat Banting Tulang:)
  159. Rupanya = ternyata… ( Contoh : di sini kau rupanya! aku cari-cari kemana-mana)
  160. Recok = ribut, berisik
  161. Rol = penggarisan, mistar (kt. benda)
  162. Sarap = tidak waras, gila (yang sarap-nya kauw? Kamu gila ya?)
  163. Sedeng =gila, sinting
  164. Senget = tidak waras, gila
  165. Silap = salah, keliru ? kalau awak tak silap — Simpang = perempatan, atau pertigaan jalan
  166. Selow =slang dari slow (lambat)
  167. Semak = kumuh, berantakan, kacau (semak kali kamar ni? semak muka kau kulihat)
  168. Sepeda Janda = sepeda berpalang ala jaman dulu, suka dipakai ibu-ibu atau buruh kebun?
  169. Setil = gaya, keren (setil kali dia malam ini, mau pergi kenduri ya?)
  170. Sengak = ketus (jangan la sengak gitu cakapnya?.)
  171. Somboy = sejenis makanan cina yang populer, dari sejenis buah yang dikeringkan, berwarana merah dan diberi lapisan tepung yang rasanya asin, manis, asam.
  172. Setalen = satuan nilai uang, kira-kira ?.. rupiah (dulu masih sering ditemukan jajanan seharga setalen, tapi sekarang tidak lagi).
  173. Sikit = plesetan dari sedikit
  174. Sudako = angkot
  175. Sor = suka, contoh nya, sor kali aku lah ama cewe tu..
  176. Selop = sandal
  177. Setip = penghapusan (kt. benda), menghapus (kt. kerja)
  178. Siap = selesai; done (tugasku udah siap, jadi aku bisa santai sekarang)
  179. Seken = salaman (dari bhs Inggris: shake hand) ? kalo cocok, seken dulu kita?.
  180. Tungkik = teler, cairan di kuping (ih, jijik)
  181. Tumbang = sakit
  182. Tumbuk = pukul , kutumbuk kau nanti?
  183. Telekung = mukena
  184. Titi = jembatan (kalo mau ke rumahnya, kau harus lewat titi besar itu, baru sampe)
  185. Tonggek = bokong yang montok
  186. Tepos = lawan tonggek
  187. Tokok; menokok = 1) memalu, memaku (tolong kau tokok dulu paku ini di papan itu); 2) pukul, jitak (ditokoknya kepalaku, Kak, sakit lah)
  188. Tekek= versi jitak yang lain lagi.
  189. Tepung roti = tepung terigu
  190. Tarok = meletakkan (coba kauw tarok tasmu di atas meja)
  191. Teratak = atap tambahan, biasanya dibangun jika ada pesta atau musibah kemalangan di rumah
  192. Terei = dari kata try (inggris), artinya coba (Cak di-terei dulu barang ni?)
  193. Terge = perhatian, peduli, acuh (udah setil habis dandananku, eh nggak di-terge sama dia)
  194. Tekong; Tekongan = menikung; tikungan, simpang jalan (agak nekong kau sikit, biar nggak dilengger mobil; kutunggu kau di tekongan
  195. Takir = nasi bungkus/kotak yang biasa dibagikan saat kenduri atau tahlilan; lihat juga kata “berkat”
  196. Tukam = melayat, takziah
  197. Toyor = pukul; memukul, tapi dengan cara lain lagi (kayak upper cut, gitu) — maling itu kena toyor massa.
  198. Uwak = (panggilan sopan untuk orang yang sudah tua, semacam bapak/ibu, atau kakek/nenek gitu deh)
  199. Ubi = singkong; ubi rambat = ubi jalar
  200. Woy = panggilan, seruan buat teman atau sekelompok orang (Woy, di mana kelien?)
  201. Yeye = main karet
Artikel Lainnya:  5 Cara Mengkritik yang Baik, Ampuh Tapi Nggak Bikin Orang Sakit Hati

Beberapa keanehan tempat:

  1. Pancing, merujuk ke tempat di seputaran Jl. Williem Iskandar dekat kampus UNIMED
  2. Serdang, merujuk ke tempat di seputaran Jl. HM. Yamin mulai dari Plaza Aksara sampai RS. Pirngadi
  3. Simpang Pos, merujuk ke tempat di persimpangan pertemuan Jalan Jamin Ginting – Jl. Gagak Hitam, di situ tidak ada kantor pos.
  4. Simpang Limun, merujuk ke tempat di persimpangan Jl. Sisingamangaraja – Jl. Sakti Lubis
  5. Kampung Keling, merujuk ke tempat diseputaran Sun Plaza
  6. Simpang Kampus, merujuk ke tempat di seputaran kampus USU, pertemuan Jl. Jamin Ginting – Jl. Dokter Mansyur
  7. Simpang Barat, merujuk ke tempat di persimpangan Jl. Gatot Subroto – Wahid Hasyim
  8. Padang Bulan, merujuk ke tempat di sepanjang jalan Jamin Ginting
  9. Simpang Kuala, merujuk ke tempat di Jl. Jamin Ginting persimpangan dengan kampus Al-Azhar
  10. Japaris, merujuk ke tempat di seputaran jalan Rahmadsyah
  11. Pasar Merah, merujuk ke tempat di seputaran jalan HM. Joni sampai jalan Menteng Raya
  12. Menteng, itu adalah singkatan dari Medan Tenggara
  13. Pajak Ular, merujuk ke tempat berjualan barang-barang bekas di seputaran Jalan Sutomo, di sana tidak ada orang jual ular.
  14. Titi Kuning, merujuk ke tempat di seputaran persimpangan Jl. Delitua
  15. Titi Bobrok, merujuk ke tempat di seputaran Jl. Setiabudi ke arah Sunggal
  16. Titi Sewa, merujuk ke tempat di seputaran perbatasan Medan dan Deli Serdang
  17. Simpang Kantor merujuk ke tempat di Jl. KL Yos Sudarso Medan Labuhan
  18. Simpang Selayang, kalau ini memang nama sebuah kelurahan di Medan Tuntungan, sementara kalau **Kolam Renang Selayang** adalah sebuah kolam renang di Jl. Dr. Mansyur
  19. Bakti adalah Jl. AR. Hakim
  20. Di seputaran Padang Bulan ada nama jalan Pasar I, Pasar II, Pasar III dst.
  21. Di seputaran Marendal juga ada nama jalan Pasar I, Pasar II, Pasar III dst.
  22. Di seputaran Marelan juga ada nama jalan Pasar I, Pasar II, Pasar III dst.
  23. Di seputaran Tembung juga ada nama jalan Pasar I, Pasar II, Pasar III dst.
  24. Simpang PemdaSetia Budi Ujung > jl Flamboyan, disana gak ada kantor pemda..
  25. Simpang Pondok Kelapa (Pokel), jl Asrama>Jln. Gagak Hitam>Jln. Gatot Subroto), gak di temui pohon kelapa..
  26. Pajus (Pajak USU)=Pasar yg menjual berbagai macam barang terutama kebutuhan anak kuliah yg ada di dalam kampus USU. Sejak Kebakaran tahun 2010 pindah ke jl Jamin Ginting.
  27. Sumber=Pintu masuk ke USU dr arah jl Jamin Ginting, tempatnya orang jualan kartu perdana
  28. Pajak Sei Kambing=Dulunya tpt jualan kambing.
  29. Pajak Melati=Pasar di daerah Sunggal yg terkenal sebagai pusat penjualan pakaian bekas di Medan
  30. Ringroad=Sepanjang jl Gagak Hitam dr simpang Pondok Kelapa hingga Simpang Setia Budi

Nah, begitulah kurang-lebih 257 hal tentang Medan yang bakal bikin Anda perantau dari Medan, jadi pingin balek ke Medan. Sekiranya ada yang kurang, boleh silahkan Anda tambahkan di kotak komentar. 😀

Sumber: CekTKP, Kaskus, n1enys.

BAGIKAN
Reyigh Pakaldolok
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Dan salah satu cara menjadi manusia yang bermanfaat adalah dengan menulis. InsyaAllah...

Bagaimana menurut Anda?

Komentar