7 Cara yang Biasa Dipakai untuk Mengubah Keyakinan dan Perilaku Seseorang, Awas Jangan Sampai Salah!

Sumber ilustrasi: Pixabay.com

Apakah Anda merasa sulit sekali mengubah seseorang? Baik itu istri, anak, orang tua, tetangga, teman, rekan kerja, masyarakat, dan lain-lainnya?

Bisa jadi, karena ternyata Anda menggunakan cara-cara yang keliru atau kurang tepat. Sehingga, mereka tak kunjung berubah.

Memang, adalah hal yang biasa, dalam keseharian kita, kita memaparkan berbagai macam opini ke orang-orang, agar keyakinan dan perilaku seseorang itu berubah.

Biasanya, ada 7 cara yang digunakan oleh orang-orang untuk mengubah orang-orang lainnya, terlepas dari benar atau salahnya. Tentu 7 hal tersebut bukan untuk Anda adopsi seluruhnya, melainkan harus Anda pilah-pilih. Nah, berikut ini 7 hal tersebut.

1. Memberikan ancaman fisik

Ancaman fisik itu contohnya seperti meninju, menendang, memukul dengan benda, dan penyiksaan-penyiksaan fisik lainnya hingga fisik seseorang terluka. Istilah lainnya, kekerasan. Dengan memberikan ancaman fisik, kadang mampu memaksa seseorang untuk ‘mengubah’ keyakinan dan perilakunya.

Hanya saja, cara ini merupakan cara yang lemah. Bahkan cenderung tidak berhasil.

Biasanya, memang sebagian orang ada yang mampu ‘berubah’ setelah diberi ancaman fisik ini, namun saat ancaman fisik itu tiada, maka dia akan kembali seperti semula.

Jadi, dia ‘berubah’ tersebut hanya semata-mata untuk mempertahankan dirinya agar tidak celaka. Bahkan bisa dibilang sejatinya tidak ada perubahan apa-apa, melainkan hanya keterpaksaan dan sandiwara saja.

Selain itu, tentu cara kekerasan seperti ini tidak dibenarkan dalam Islam. Maka, jangan Anda gunakan.

2. Memberikan ancaman ma’nawi

Ancaman ma’nawi ini contohnya seperti memarahi, membentak, menakut-nakuti, menggertak, dan sebagainya. Memang hanya berupa kata-kata saja, tidak sampai melakukan kekerasan fisik. Meski bisa jadi redaksi kata-katanya mengancam akan memberikan kekerasan fisik.

Efek ancaman ma’nawi ini sama saja seperti efek ancaman fisik sebelumnya, yaitu hanya sementara. Tidak langgeng. Saat ancamannya tiada, maka perubahannya akan hilang, kembali menjadi seperti semula. Malah bisa jadi sebenarnya mereka tidak berubah, melainkan hanya seperti itu kalau di depan Anda saja. Kalau Anda sedang tidak ada, maka mereka akan kembali seperti semula.

Maka dari itu, cara ini pun kurang tepat. Saya kira Anda sudah menjumpai banyak faktanya; seperti misalnya anak-anak yang rajin belajar kalau dimarahin saja, pegawai yang rajin kalau ada supervisor saja, dan lain-lain.

3. Menyuap

Menyuap di sini maksudnya adalah menyogok. Yakni, memberikan harta kepada seseorang untuk mengubah keyakinan dan perilakunya, menjadi keyakinan dan perilaku tertentu lainnya, selama harta tetap tersalur padanya.

Hal ini tak jarang terjadi; baik di level perusahaan, bisnis, pemerintah, perpolitikan, organisasi, dan sebagainya. Indikasinya, banyak orang yang tidak konsisten:

  • hari ini bilang “A”, besok bilang “B’.
  • kemarin melakukan “A”, sekarang melakukan “B”.
  • sebelumnya bilang tidak mau, sekarang jadi mau
  • sebelumnya dia bilang tidak bisa, sekarang jadi bisa
  • dan sebagainya…

Sayangnya, tentu ini merupakan cara yang jelas keliru. Sejatinya, perubahannya merupakan perubahan yang amat sangat lemah.

Mungkin sekilas dia bisa berubah dengan bayaran uang tertentu, namun bila ia mendapatkan uang yang lebih banyak lagi dari pihak lain, maka dia akan dengan mudah pula berubah lagi menjadi yang lain. Apalagi kalau kucuran dananya di-stop, maka perubahannya pun bisa stop pula. Sebenarnya dukungannya ‘tidak ada harganya’.

Artikel Lainnya:  Calon Isteri Mensyaratkan Calon Suami Punya Harta Dulu, Bolehkah?

Selain itu, pun jelas cara ini tidak dibenarkan dalam Islam. Suap, yakni risywah, merupakan dosa besar.

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَ

“Rasulullah Saw melaknat penyuap, penerima suap, dan perantaranya.” (HR Ahmad)

4. Memberikan sentuhan perasaan

Kadang ada juga fenomena orang yang berubah karena berdasarkan perasaan semata tanpa ada kajian dan penjelasan argumentatif. Ditandai dengan rasa semangatnya, rasa sedihnya, rasa dendamnya, cinta, euforia, phobia, dan sebagainya.

Intinya sih ‘memanfaatkan’ naluri ego dan iba yang ada pada tiap diri manusia.

Cara ini memang dampaknya sungguh luar biasa. Bahkan bisa membuat seseorang tidak segan-segan mengorbankan nyawanya, banyak hartanya, seluruh waktunya, dan segenap energinya.

Namun, sayangnya, perubahan seperti ini juga belum tentu langgeng. Karena, yang namanya perasaan seseorang sangat mudah berubah-ubah. Apalagi keyakinan dan perilakunya tersebut tak ditopang dengan argumentasi dan pemikiran apa-apa, sehingga dia bisa berhenti bila telah muncul keragu-raguan pada dirinya.

Maka dari itu, cara ini jangan dijadikan satu-satunya cara. Meskipun bukannya tidak boleh dipakai. Yah boleh saja, silahkan Anda pakai. Hanya saja, sebaiknya, gunakanlah cara yang satu ini dan juga cara benar lainnya. Jangan hanya mengandalkan satu cara ini saja.

5. Memberikan keteladanan

Nah, ini merupakan satu cara yang sering berhasil. Yakni, memberikan keteladanan.

Ini merupakan satu hal yang wajar. Jika kita ingin seseorang mengubah keyakinan dan perilakunya, tentu sebaiknya ada seorang role model yang seperti itu. Bila pada hal tertentu memungkinkan diri kita sendiri yang menjadi role modelnya, maka bisa kita mulai dari diri kita saja yang berubah dan mencontohkannya pada orang-orang.

Kalau kita benar-benar serius dan konsisten seperti itu, maka bisa jadi orang-orang pun akan terinspirasi pada kita, hingga akhirnya mengikuti.

  • Bila kita ingin orang lain rajin, maka bagus pula kita mulai dari diri kita sendiri yang rajin, agar orang pun terinspirasi ikut rajin juga
  • Bila kita ingin orang lain ikut sholat, maka bagus pula kita istiqamah setiap hari jalan ke Mesjid mau sholat, agar orang pun terinspirasi ikut sholat juga
  • Dan sebagainya…

Pada beberapa kejadian sih, cara ini berhasil. Dan kebetulan sering perubahan keyakinan dan perbuatan seseorang itu disertai dengan terinspirasinya dia pada seorang teladan.

Namun, tentunya cara ini jangan juga dijadikan hanya satu-satunya cara. Tentunya, kita juga harus ngomong. Harus ngobrol. Harus ada diskusi. Harus ada komunikasi. Karena, belum tentu juga seseorang yang terinspirasi dia otomatis mau bergerak, kalau tidak ada yang mengajaknya.

Maka dari itu, selain memberikan contoh teladan, kita juga harus ngomong mengajak.

6. Memaparkan manfaat dan kerugian

Cara yang ini adalah cara yang biasa dan banyak dilakukan. Yakni, memberikan informasi, khususnya terkait manfaat-manfaat yang akan didapat oleh seseorang, bila dia mengubah keyakinan dan perilakunya menjadi keyakinan dan perilaku tertentu. Serta, kerugian-kerugian yang akan didapat bila tidak berubah.

Artikel Lainnya:  Hadiah Terbaik untuk Orang Tua Bukanlah Mobil, Rumah Mewah, Maupun Harta; Melainkan Kesholehan Kita

Biasanya manfaatnya berupa materi maupun psikis. Misalnya, dia kalau berubah, maka dia akan:

  • lebih sehat
  • lebih untung
  • lebih efektif
  • lebih efisien
  • lebih bahagia
  • lebih manis rasanya
  • lebih nyaman
  • lebih cepat
  • lebih murah
  • lebih indah
  • tidak mudah sakit
  • tidak rugi
  • tidak lama
  • tidak risih
  • tidak repot
  • tidak rusak

Sebenarnya, ini adalah satu cara yang harus ada.

Meski kadang walaupun sudah dipaparkan jelas seperti ini, ada juga orang yang belum mau berubah. Kalau seperti itu, bukan berarti cara ini yang salah. Bisa jadi, ada faktor lain yang menghalanginya. Misalnya seperti beberapa hal yang disebut di atas; ada ancaman, sudah disuap, perasaan, dan butuh teladan.

7. Memaparkan argumentasi syar’i dan shahih

Nah, ini adalah satu metode baku yang harus Anda pakai.

Mungkin, di sini bisa kita bedakan antara kata “cara” dengan “metode”. Kalau “cara”, itu bisa dipakai, bisa juga tidak dipakai. Tapi, kalau “metode”, merupakan hal baku yang memang harus selalu seperti itu. Maka dari itu, hal ini harus selalu disampaikan. Yakni, argumentasi syar’i dan shahih.

Meski tentu harus kita lihat dulu persoalannya merupakan persoalan apa. Kalau pada persoalan yang sudah dipastikan hukumnya mubah, maka next gunakan saja cara ke-6 di atas, yakni pemaparan manfaat dan kerugian.

Namun, pada persoalan lain, maka jangan hanya memaparkan manfaat dan kerugian. Bahkan, bisa jadi jangan sama sekali memaparkan manfaat dan kerugian. Yang paling awal, harus dipaparkan bagaimana sudut pandang Islam terhadap suatu keyakinan dan fakta perbuatan tersebut. Lihat al-Qur’an dan hadits.

Kalau menurut Islam itu haram, maka harus diubah atau ditinggalkan.

Inilah perubahan yang kuat dan langgeng bertahan. Yakni, perubahan berlandaskan aqidah Islam. Seseorang bisa dengan sangat mudah dan konsisten meyakini sesuatu maupun melakukan sesuatu, asal memang hal itu merupakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Kalau pun ada yang bandel, maka akan dengan sangat mudah seseorang itu diingatkan.

Karena dia paham, bahwa dirinya merupakan makhluk ciptaan Allah yang tujuan hidupnya di dunia adalah menjalankan semua perintahNya serta menjauhi seluruh laranganNya. Kemudian, di Akhirat dia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua apa yang ia lakukan selama hidup di dunia. Sehingga akhirnya, bila Allah ridha padanya, maka ia kelak akan masuk Surga selama-lamanya. Bila Allah tidak ridha, maka ia bisa disiksa di Neraka sementara atau selama-lamanya.

Nah, setidaknya, begitulah 7 cara yang biasa dipakai untuk mengubah keyakinan dan perilaku seseorang. Dari 7 hal tersebut, silahkan Anda pilah-pilih.

Oh iya, tentunya, jangan lupa, memang sejatinya seseorang itu bisa berubah atas kehendak Allah. Maka, tidak perlu stress bila seseorang masih belum berubah juga. Yang penting kita terus-menerus berusaha saja. Soal hasil, itu urusan Allah.

Terakhir, sekiranya menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan Anda share ke teman-teman Anda yaa.. 😉

BAGIKAN
Reyigh Pakaldolok
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Dan salah satu cara menjadi manusia yang bermanfaat adalah dengan menulis. InsyaAllah...