Hidup itu Bukan Soal Agar Bisa Banyak-Banyak Santai, Tapi Soal Agar Capek Setelah Melakukan Kebaikan

Hidup itu Bukan Soal Agar Bisa Banyak-Banyak Santai, Tapi Soal Agar Capek Setelah Melakukan Kebaikan
Sumber gambar: Pixabay.com

Banyak orang yang mengeluh bahwa dirinya merasa sangat capek. Sungguh lelah sekali, ingin rasanya cuti libur panjang.

Hal tersebut sering saya dengarkan, termasuk dari orang-orang di sekitar saya. Mulai dari mereka yang lelah bekerja di Kantor, lelah mengurusi Rumah, lelah belajar di Kampus maupun Sekolah, lelah berdakwah, dan sebagainya.

Kemudian mereka berdiskusi, kira-kira gimana ya agar bisa enak-enak aja.. Tidur-tidur doang tapi dapat duit gitu.. Kerja ringan, bisa sukses dan dapat hasil gede…

Bahkan, terkadang saya pun berucap demikian.. “Iya juga ya..” dalam hati saya..

Namun…

Namun, beberapa saat kemudian, saya sadar, ternyata hal tersebut salah.

Sesungguhnya, persoalannya yang harus kita bahas bukan soal pekerjaan kita itu bikin kita jadi capek atau nggak capek. Yang harus dibahas dari setiap pekerjaan itu adalah, apakah pekerjaan itu baik dan benar atau salah.

Kalau pekerjaan itu baik dan benar, yah senantiasalah kita lakukan. Terlepas pekerjaan itu bikin kita capek atau nggak.

Sebaliknya; kalau tidak bermanfaat, terlebih lagi salah; maka nggak perlu kita kerjain. Meskipun pekerjaan itu enak dan nggak bikin capek.

Maka dari itu, apabila pekerjaan yang kita lakukan selama ini termasuk baik dan benar, kemudian karena hal itu kita menjadi capek, maka berbahagialah kita.

Apalagi kita sampai sakit bahkan meninggal, saat maupun setelah melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Keren kan?! Keren dong!

Sementara itu, perhatikanlah orang-orang yang kebanyakan santai; hanya tidur-tiduran, ngemil-ngemil doang, serta nonton film dan main game melulu. Hidupnya seperti tidak berarti. Bayangkan, kalau dia tetap seperti itu terus, kemudian meninggal, kira-kira balasan apa yang akan dia dapatkan di Akhirat nanti? Sementara balasan baik hanya akan didapat oleh mereka yang senantiasa melakukan hal yang baik di dunia.

“Apa yang kita tanam, itu yang kita petik…”

Lagipula, tidak menutup kemungkinkan; apabila diri kita tidak disibukkan dengan perkara kebaikan, maka bisa jadi diri kita tengah disibukkan dalam perkara keburukan.

Artikel Lainnya:  Dampak Perbuatan Kita itu Ada yang Jangka Pendek, Jangka Panjang, dan Jangka Akhirat

9-taat-dalam-perkata-kebaikan

Berbahagialah apabila Anda telah sangat capek setelah melakukan ketaqwaan, hal-hal yang baik, yang benar, serta yang bermanfaat bagi sesama.

Tentunya bukan berarti kita bablas dzolim terhadap diri sendiri, sehingga tidak pernah istirahat. Tentulah kita perlu sesekali santai dan refreshing. Hanya saja, yah sekadarnya saja. Karena yang nama berjalan itu perlu berteduh sebentar, namun usai berteduh kita harus lanjut jalan supaya sampai tempat tujuan.

Nah, maka dari itu, janganlah kita mengeluhkan pekerjaan kita begitu berat, bikin capek, dan sangat melelahkan. Kalau memang itu hal yang baik, justru kita harus bersyukur.

“Alhamdulillah, tenaga ini terkuras setelah melakukan hal yang baik dan bermanfaat….”

Dengan begitu, insya Allah hidup Anda tidak sia-sia.

Menurut saya, orang yang sering capek itu orang yang hebat. Saya bangga dengan mereka.. 🙂

BAGIKAN
Dani Siregar
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar