Kenapa Impian Sudah Terwujud, Tapi Merasa Belum Puas, Seperti Ada yang Kurang? Ini 5 Penyebabnya

Kenapa Impian Sudah Terwujud, Tapi Merasa Belum Puas, Seperti Ada yang Kurang? 5 Ini Penyebabnya

Kita semua pasti memiliki cita-cita, atau impian. Misalnya:

  • ada yang pingin nikah
  • ada yang pingin punya Rumah
  • ada yang pingin naik haji
  • ada yang pingin wisuda
  • ada yang pingin jadi PNS
  • ada yang pingin jalan-jalan ke luar negeri
  • ada yang pingin punya penghasilan bersih 10 juta per bulan
  • ada yang pingin punya sepatu/handphone/laptop/motor/mobil baru
  • Dan lain-lain…

Biasanya, saat impian kita itu terwujud, maka kita akan sangat bangga sekali. Sulit berhenti tersenyum. Sembari mengatakan, “Yesss.. Akhirnya… alhamdulillah..”.

Namun, anehnya, ternyata ada sebagian orang yang dia tidak benar-benar merasakan kesenangan sejati saat telah berhasil mewujudkan impiannya. Rasanya biasa-biasa aja. Bahkan ada yang merasa kurang puas.

Malah justru ada yang kok bukannya merasa senang, malah seperti ada sesuatu yang kurang dan mengkhawatirkan.

Apakah diri Anda pernah merasa begitu? Atau saat ini merasa begitu? Atau mungkin teman Anda ada yang begitu?

Tentunya keanehan tersebut perlu kita teliti, kenapa bisa begitu. Dan perlu diatasi, agar nggak bikin galau.

Nah, setidaknya, ada 5 penyebabnya kenapa impian Anda sudah terwujud tapi kok bukannya bangga malah galau. Berikut ini dia.

1. Karena hanya memuaskan egoisme diri sendiri aja

Sebenarnya perjuangan seseorang dalam mewujudkan impiannya itu, bahasa sederhananya adalah proses dia memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Karena memang sejatinya setiap manusia memiliki kebutuhan hajat dan keinginan naluri.

Sedangkan naluri manusia itu ada beberapa. Yakni; naluri egoisme, naluri iba, dan naluri menuhankan (baca artikel “Hakikat Manusia“). Nah, bisa jadi, selama ini Anda hanya terlalu sibuk memenuhi naluri egoisme saja.

Bila naluri lain tak dipenuhi, pastilah akan menimbulkan kegalauan.

Padahal, untuk mendapatkan kesenangan, bisa juga dengan cara menyenangkan orang lain. Misalnya, menyenangkan orang tua, pasangan, sahabat, dan sebagainya. Hal ini bisa juga Anda jadikan target, cita-cita, ataupun impian.

Selain itu, untuk mendapatkan kesenangan, bisa juga dengan cara senantiasa menjalankan perintah Allah Swt. Misalnya, istiqamah beribadah, mengikuti kajian Islam, berdakwah menyebarkan Islam, dan sebagainya. Hal ini bisa juga Anda jadikan target, cita-cita, ataupun impian.

Nah, maka dari itu, Anda pastikanlah bahwa impian atau cita-cita Anda itu berusaha Anda wujudkan bukan hanya untuk menyenangkan diri sendiri saja. Tapi pastikanlah bahwa proses itu bernilai ibadah, bahkan bisa juga memberikan manfaat kepada orang lain.

Semoga, dengan begitu, bisa membuat kita menjadi lebih bahagia apabila berhasil mewujudkannya.

2. Karena ada kejahatan pada prosesnya

Bisa jadi penyebab kenapa kok kita tidak merasa bahagia dan puas saat berhasil mewujudkan impian kita, adalah karena ada hal jahat yang kita lakukan saat proses mewujudkannya. Misalnya, kita ada melakukan penipuan, kecurangan, korupsi, suap, keharaman, kekasaran, kelalaian, dan sebagainya.

Artikel Lainnya:  Menjadi "Terbaik" Itu Mungkin Sulit, Tapi Menjadi "Lebih Baik" Itu Sangat Bisa!

Karena kalau memang kita masih punya hati nurani, pasti kita akan senantiasa risih apabila kita berbuat jahat.

Misalnya; meskipun akhirnya kita berhasil beli Rumah baru, tapi ternyata uang yang kita dapat berasal dari hasil membuat kecurangan dan penipuan. Maka, tentu kelakuan jahat kita itu akan senantiasa membuat diri kita tidak tenang.

Misal lain; berhasil jadi PNS. Tapi, dengan cara menyuap. Maka pasti akan merasa khawatir akan kehalalan gajinya tersebut. Sedangkan bila daging di tubuh berasal dari makanan yang didapat secara haram, maka lebih layak tempatnya di Neraka.

Walau berapapun cita-cita kita yang akhirnya terwujud, namun kalau semuanya proses mewujudkannya itu terdapat cara-cara jahat; pasti hasilnya tak akan membuat kita benar-benar bangga. Yang ada galau terus.

3. Karena masih ada kewajiban diri sendiri dan hak orang lain yang belum ditunaikan

Sebuah kewajiban, apabila ditunda-tunda pun pasti akan merisihkan. Karena di saat yang sama kita menangguhkan hak orang lain. Nah, bisa jadi, meskipun satu atau beberapa cita-cita dan impian Anda sudah terwujud, tapi Anda belum benar-benar merasakan kebahagiaan sejati; adalah karena masih ada kewajiban lain yang belum Anda tunaikan, dan hak orang lain yang belum Anda tunaikan.

Misalnya, okey Anda sudah berhasil wisuda, sudah menikah, sudah banyak berpenghasilan; namun ternyata Anda sudah lama tidak berkomunikasi dengan orang tua Anda. Bisa jadi, ini yang bikin hidup kurang bahagia.

Karena memang menyambung tali silaturahim itu hukumnya wajib. Maka, bila kewajiban tersebut dilalaikan, pasti akan mengakibatkan kegalauan, meskipun di sisi lain Anda barusan berhasil mewujudkan cita-cita Anda.

Contoh lain, misalnya okey Anda sudah berhasil beli handphone baru, laptop baru, dan motor baru. Namun, Anda masih punya hutang uang pada orang lain. Tentu ini akan membuat Anda sulit untuk benar-benar berbahagia.

Apalagi kalau nilai hutang Anda lebih rendah daripada nilai barang-barang yang Anda beli tersebut, ditambah lagi barang-barang tersebut hanya keinginan, bukan kebutuhan. Sementara menunda-nunda pembayaran hutang itu merupakan sebuah kejahatan.

4. Karena hanya ikut-ikutan saja

Anehnya, ada jenis orang yang menentukan cita-cita atau impiannya hanya berdasarkan ikut-ikutan orang lain saja.

Tentu hal tersebut tak menjamin membuat dirinya akan bahagia kelak. Karena belum tentu hal tersebut merupakan hal yang memang benar-benar ia inginkan.

Misalnya, kebanyakan anak SMA yang sudah lulus, ingin masuk jurusan Kedokteran. Maka, ada seseorang yang ikut-ikutan ingin masuk jurusan Kedokteran juga. Nah, saat keinginannya itu berhasil tercapai, kemudian ia menjalani perkuliahan, ternyata ia tidak suka dengan perkuliahan di jurusan Kedokteran tersebut.

Artikel Lainnya:  10 Hal yang Nggak Dilakukan Orang-Orang Bermental Baja

5. Karena tidak ada hubungannya dengan Akhirat

Sejatinya tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia ini.

Coba saja, misal, walaupun kita berhasil mewujudkan impian kita dengan proses yang benar, tidak melakukan kesalahan seperti yang dijelaskan pada empat poin sebelumnya; hingga kemudian kita merasakan kebahagiaan sejati, maka rasa bahagia itu pun belum tentu langgeng dapat kita rasakan selama-lamanya.

Ada kalanya seseorang murni bahagia saat malam pertama menikah, saat punya anak, dan sebagainya; namun seiring berjalannya waktu, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, lama-kelamaan euforianya mulai agak berkurang, tidak seperti dulu lagi.

Memang begitulah kebahagiaan di dunia, hanya sementara, tidak kekal. Tidak ada euforia yang long last.

Namun, apabila semua aktivitas kita itu kita lakukan dalam rangka mempersiapkan diri untuk hari esok di Akhirat, tentu apapun yang terjadi kita akan senantiasa bahagia 100%. Asalkan, memang kita berada di jalan yang benar.

Misalnya kita punya impian ingin punya mobil. Tujuannya, agar bisa mengajak istri dan anak-anak untuk jalan-jalan, agar mereka senang. Selain itu, juga dipakai untuk membawa jamaah untuk bersama-sama pergi ke Majelis kajian Islam.

Maka, bila seperti itu, pada proses berusaha mewujudkannya kita senantiasa merasa bahagia. Walaupun belum terwujud, tapi usaha tersebut tidak sia-sia, karena insyaAllah niat yang baik akan membuahkan pahala.

Dan apabila sudah terwujud, maka kita akan senantiasa bahagia dan bersyukur, selama memang mobil tersebut benar-benar kita gunakan untuk hal-hal yang dapat membuahkan pahala.

Intinya, memang hidup kita ini harus selaras dengan apa tujuan Sang Pencipta menciptakan ciptaanNya. Yakni bertaqwa kepadaNya, dengan cara menjalankan seluruh perintahNya, dan menjauhi laranganNya.

Itulah yang harus menjadi impian utama kita. Kalau ada impian lain, ada baiknya berhubungan dengan impian utama tersebut. Misalnya; smartphone baru, laptop baru, mobil baru, dan sebagainya itu memang diperlukan untuk mendukung aktivitas bertaqwa kepadaNya.

Maka, bila sedang berproses saja pun kita sudah bahagia. Dan apabila terwujud, pun juga lebih bahagia.

Begitulah…

Nah, setidaknya, itulah lima hal penyebab kenapa impian kita sudah terwujud, namun kok merasa kurang puas, seperti ada yang kurang.

Semoga, setelah membaca artikel ini, Anda menjadi lebih merasa bersyukur dengan impian-impian Anda yang sudah terwujud.

Sumber gambar: Pixabay

BAGIKAN
Mufakir adalah seorang otaku tobat yang merasa dirinya masih belum banyak bermanfaat bagi orang lain, dan berusaha selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. Baginya sukses itu sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin. Passion menulis artikel seputar motivasi dan produktivitas.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar