Terkadang Sadar Salah itu Butuh Waktu, Namun Bisa Dipercepat dengan Nasehat Orang dan Legowonya Kita

terkadang-sadar-salah-itu-butuh-waktu-namun-bisa-dipercepat-dengan-nasehat-orang-dan-legowonya-kita

Ada satu fitur facebook yang menurut saya bagus. Yaitu, “On This Day“. Yakni, notifikasi tentang apa yang terjadi pada tanggal yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

Kenapa bagus, karena:

  • Dari situ saya bisa menemukan status-status alay saya yang dulu sejak sekitar 2009 hingga sekarang, agar bisa saya hapus. 😛
  • Selain status alay, ada juga konten-konten lainnya yang tidak syar’i. Tentu konten seperti itu harus dihapus.
  • Atau ada juga konten yang sebenarnya sih tidak 100% salah, hanya saja kurang tepat. Ada baiknya pula kalau itu dihapus.

Nah, terkadang, kalau mengingat-ingat masa lalu saya, saya merasa agak aneh. Ternyata banyak hal-hal jelek dan salah yang saya lakukan.

Bahkan bukan hanya status facebook, tapi juga beberapa artikel yang saya tulis di blog-blog saya. Ada artikel lawas yang salah, atau kurang tepat.

Tentunya bukan hanya konten di online, namun juga keseharian saya di dunia nyata. Ada perkataan dan perbuatan saya yang salah, atau kurang tepat.

Padahal, bukannya tidak ada orang yang mengingatkan kita agar jangan melakukan kesalahan tersebut. Ada satu atau beberapa orang yang mengingatkan kita.

Beberapa contoh yang banyak adalah nasehat orang tua kita. Saya beberapa kali pernah tidak mengikuti nasehat orang tua saya. Bahkan saat nasehat itu sampaikan lagi dan lagi, saya tetap tidak mau mengikutinya.

  • Namun, setelah esok paginya, baru saya berpikir dan sadar, ada benarnya juga nasehat tersebut..
  • Ada pula sebagian yang saya baru sadar salahnya setelah beberapa hari..
  • Ada pula sebagian yang saya baru sadar salahnya setelah beberapa bulan..
  • Ada pula sebagian yang saya baru sadar salahnya setelah beberapa tahun..
Artikel Lainnya:  Hidup itu Bukan Soal Agar Bisa Banyak-Banyak Santai, Tapi Soal Agar Capek Setelah Melakukan Kebaikan

Selain nasehat orang tua yang ternyata benar, ada juga yang dari teman saya, senior saya, ustadz saya, dan sebagainya.

Yang jeleknya; sudahlah salah, malah sombong pula. Nah, itulah salah satu yang saya maksud perasaan aneh saat saya melihat diri saya di masa lalu.

Nah itu baru nasehat seseorang, apalagi kalau syariat Islam yang jelas wajib kita ta’ati? Tak jarang, apalagi akhir zaman seperti ini, banyak orang yang tak mau patuh pada syariat Islam. Tak sedikit pula malah menentang. Dibilangin nggak boleh pacaran, malah masih pacaran. Dibilangin jangan terlibat transaksi ribawi, malah masih terlibat.

Namun, sebagian dari mereka ada yang akhirnya sadar setelah beberapa waktu telah berlalu. Itu pun dengan syarat kalau mau legowo.

Yah, begitulah.. terkadang memang kita sadar salah itu tidak instan. Namun, ingat, “terkadang” yaa.. bukan selalu. Terkadang bisa jadi juga kita cepat bahkan instan sadar salahnya. Nah, salah satu cara percepatannya, adalah dengan adanya nasehat orang lain, dan sikap legowo kita.

Kalau kita ‘menikmati’ kesalahan, tidak mau mendengarkan nasehat orang lain, bisa ‘tamatlah’ kita. Atau, seandainya sudah ada nasehat, namun kita susah legowo, makin lamalah sadarnya kita.

Jangan sampai kita termasuk orang yang baru sadarnya bila sudah mengalami ‘kecelakaan’ dan rasa pedih yang begitu mendalam. Sudah kejadian, baru sadar.

Terkadang ada orang yang nggak mempan dinasehati agar baik-baik dan hati-hati. Mempannya dengan pengalaman kesalahan dan kepedihan. Udah kejadian, baru nyesel, kemudian belajar..

Suka konten-konten TeknikHidup ini?


BAGIKAN
Dani Siregar
Marketing TeknikHidup.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar