Ternyata Anak Bayi Bisa Lebih ‘Dewasa’ daripada Kita, Ini 4 Hal yang Dapat Kita Pelajari dari Mereka

Apakah Anda punya anak bayi? Atau mungkin, Anda punya sepupu atau keponakan yang masih bayi?

Sebagaimana yang kita ketahui dan sewajarnya, anak bayi itu memang harus senantiasa kita rawat dan didik, agar kelak dia menjadi orang yang dewasa. Nah, namun, jangan salah sangka, ternyata seolah-oleh anak bayi itu bisa lebih ‘dewasa’ daripada diri kita. Yang mana ‘kedewasaannya’ tersebut dapat kita ambil pelajarannya.

‘Dewasa’ dalam tanda petik, maksudnya hal-hal bijak yang sangat bagus apabila kita lakoni.

Setidaknya, berikut ini merupakan 4 hal yang dapat kita pelajari pada anak-anak bayi.

1. Mereka pantang menyerah

Salah satu contoh konkritnya adalah, saat mereka mulai belajar merangkak dan berjalan. Inilah bukti nyata bahwa dulunya kita itu orang yang giat berusaha dan pantang menyerah. Bayangkan apabila saat kita dulu belajar merangkak dan berjalan, kemudian jatuh, lalu akhirnya frustasi, nggak mau belajar lagi, akan jadi apa diri kita? Bisa jadi hari ini kita hanya dapat berbaring selama-lamanya. Nggak bisa berjalan, bahkan merangkak.

Padahal mereka itu jatuhnya bukan cuma sekali, dua kali, atau tiga kali. Melainkan jatuh berkali-kali. Tapi, tetap must go on. Lah kita yang baru beberapa kali jatuh saja, udah langsung menyerah? Seharusnya kita malu pada anak bayi, hehehe. Terlebih lagi, malu pada diri kita sendiri di masa lalu saat masih bayi.

2. Mereka tak pernah berhenti belajar

Sebagaimana yang kita ketahui, anak bayi itu cukup lasak. Matanya suka melihat ke kiri-kanan, atas, bawah, mengamati segala hal. Dan bahkan saat dia sudah bisa merangkak, dia suka samperin berbagai hal yang ia penasaran pada hal tersebut.

Rasa ingin tahunya begitu besar.

Nah, apabila hari ini kita ada perasaan cuek, nggak mau tahu, malas belajar; seharusnya kita malu pada anak bayi juga. Kalau anak bayi itu dalam satu hari bisa belajar banyak hal, masak kita satu hari hanya bisa belajar sedikit hal? Apalagi kalau kita nggak ada belajar sama sekali?

Artikel Lainnya:  3 Jenis Dorongan Kenapa Seseorang Mau Melakukan Suatu 'Kebaikan', Pastikanlah Jenis Doronganmu Benar

Tentunya bisa jadi karena kita yang sudah dewasa punya beban lain, yang mana anak bayi belum punya beban. Namun, kalau kita menyikapinya secara proporsional, belum tentu beban kita begitu berat sehingga membuat kita berhenti belajar.

3. Mereka berani mencoba, nggak banyak takut-takutnya

Yaps, saat seorang anak bayi melihat sesuatu, dia langsung samperin sesuatu itu. Ia pegang, bahkan ia masukkan ke mulutnya, hehehe.

Mereka senantiasa berani mencoba. Mulai dari benda biasa, hingga yang agak kotor dan berbahaya, seperti misalnya sandal, kucing, kecoa, dan sebagainya.

Tentunya mereka melakukan hal itu tanpa kesadaran, dan bisa membahayakan, makanya perlu kita kontrol dan cegah juga apabila aktivitasnya membahayakan. Namun, konteksnya di sini adalah, seharusnya kita dapat mengambil pelajaran dari keberanian mereka.

Wong mereka nggak punya kesadaran saja bisa berani, masak kita yang punya kesadaran, malah banyak nggak beraninya?

Saat kita dulu masih kecil tidak bisa membuat pertimbangan dan antisipasi, masak kita sudah gede masih nggak bisa membuat pertimbangan dan antisipasi?

4. Mereka ‘zuhud’

Salah satu contoh praktek zuhud adalah, kita tidak terlalu heboh dan lebay bangga apabila mendapatkan harta, sekaligus juga tidak terlalu heboh dan lebay sedih, marah, dan frustasi apabila kehilangan harta tersebut.

Rasulullah Saw bersabda:

Zuhud di dunia itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan dengan menyia-nyiakan harta, tetapi hendaknya apa yang ada di tangan Allah lebih engkau jadikan sandaran daripada apa yang ada di tanganmu, dan hendaklah kondisimu sedang di timpa musibah dan ketika tidak ditimpa musibah adalah sama saja bagimu, dan hendaklah pujian orang yang memujimu dan yang mencelamu di dalam kebenaran adalah sama saja bagimu.” (HR al-Baihaqi)

Artikel Lainnya:  8 Cara Menghilangkan Rasa Takut Dalam Diri

Nah, coba perhatikanlah saat seorang anak bayi naik mobil mewah. Bagaimana perasaan dia? Palingan diem-diem saja, hehehe.. Dan coba perhatikan pula saat dia di becak saja, bagaimana perasaan dia? Yah sama, diem-diem juga, hehehe..

Kalau misalnya dia dapat uang THR, gimana perasannya dia? Palingan yah diem-diem juga, yang ngambil malah emaknya. Nah, saat uangnya pergi, dia begitu rela pula, hehehe!

Itulah hebatnya anak bayi, tidak terlalu lebay bangga ataupun histeris terkait harta benda. Tidak ada salahnya apabila kita pelajari hal tersebut dari mereka.

Tentunya sikap mereka yang seperti itu bukan zuhud, meskipun secara dzahir kelihatannya ‘zuhud’. Zuhud yang sesungguhnya harus didasari iman, kemudian praktekknya bisa jadi mirip seperti itu.

Namun tentunya dari pari penampakannya itu, bisa saja seharusnya kita jadi teringat untuk mengevaluasi kezuhudan kita.

Nah, begitulah 4 hal yang dapat kita pelajari dari para anak bayi. Tentunya, pada apa-apa yang tampaknya saja. Karena memang anak bayi tidak melakukan hal-hal tersebut berdasarkan kesadaran. Nah, konteksnya di sini adalah; masak kita yang sudah punya kesadaran tapi tidak mampu melakoni hal-hal ‘bijak’ tersebut? Hehehehe..

BAGIKAN
Reyigh Pakaldolok
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Dan salah satu cara menjadi manusia yang bermanfaat adalah dengan menulis. InsyaAllah...

Bagaimana menurut Anda?

Komentar