Ini 3 Ciri-Ciri Orang Berprestasi. Baku Nih, Harus Selalu Begini. Tidak Bisa Tidak

Ciri-ciri orang berprestasi

Berprestasi di sini maksudnya umum. Baik itu:

  • Berprestasi pada persoalan akademik di Sekolah ataupun Kampus
  • Berprestasi soal karier dan pekerjaan
  • Soal bisnis
  • Soal organisasi
  • Dan lain-lain

Nah, baik dalam hal apapun itu, biasanya mereka yang berprestasi itu bila ditarik ‘garis persamaannya’ maka akan kelihatan bahwa mereka memiliki ciri-ciri yang sama.


Bahkan ciri-ciri ini selalu ada mulai dari zaman dulu, zaman sekarang, hingga insyaAllah zaman nanti.

Apa saja ciri-ciri itu? Setidaknya, ada 3:

  1. Haus ilmu
  2. Membuat action-plan
  3. BERSEGERA mengeksekusi action-plan tersebut

Biasanya, 3 hal ini yang selalu ada pada mereka yang berprestasi.

Sebaliknya, mereka yang tidak kunjung berhasil, selalu gagal, gitu-gitu aja; biasanya tidak memiliki 3 hal ini.

1. Haus ilmu

Logikanya, normalnya kalau ada orang yang berhasil dan ada orang yang gagal, berarti mereka berdua melakukan 2 hal ikhtiar yang berbeda.

Ada hal-hal yang dilakukan oleh orang yang berprestasi tersebut, namun orang yang gagal tidak melakukan hal-hal itu.

Misalnya:

  • Orang yang berprestasi itu bangun pagi sebelum subuh. Sedangkan yang gagal itu, dia bangun setelah subuh.
  • Orang yang berprestasi itu tubuhnya sehat dan bugar. Sedangkan yang gagal itu ntah kenapa kok sering ngantuk melulu.
  • Orang yang berprestasi itu bagus ingatannya. Sedangkan yang gagal itu ntah kenapa kok banyak lupa-lupanya.
  • Dan lain-lain

Nah, pertanyaannya:

  • Bagaimana caranya bisa bangun sebelum subuh?
  • Bagaimana caranya bisa bisa bugar nggak mudah ngantuk melulu?
  • Bagaimana caranya agar mudah mengingat, tidak mudah lupa?

Semua itu pasti ada cara tertentu. Nah, pengetahuan terkait bagaimana caranya itu, itulah yang namanya ilmu.

Nah, di sinilah pentingnya adanya sifat haus akan ilmu.

Kalau kita haus akan ilmu, maka kita akan sangat terdorong untuk senantiasa mencari-cari tahu berbagai macam ilmu.

Orang yang haus ilmu, dia tidak sembarangan melakukan sesuatu. Dia pasti melakukan sesuatu pakai ilmu.

Sebaliknya, orang yang tidak haus akan ilmu, dia akan melakukan sesuatu sembarangan saja. Nggak pakai ilmu. Asal-asalan saja.

Padahal, dengan modal ilmu itu, kita bisa memudahkan urusan kita.

Jadi, tidak heran kan? Ini pola suksesnya. Baku nih. Orang yang berprestasi, baku harus punya sifat haus ilmu.

2. Membuat action-plan

Analogi pentingnya membuat action-plan itu sebagaimana kita menentukan mau pergi ke mana.

  • Supaya kita bisa tahu, harus lewat jalan mana.
  • Supaya kita bisa tahu, harus naik kendaraan apa.
  • Supaya kita bisa tahu, berapa lama waktu yang perlu kita tempuh.

Misalnya nih, kita jualan online. Kita pingin omzet 5 juta per bulan.

Nah, maka, kita harus membuat action-plan, apa yang harus kita lakukan setiap hari agar bisa mendapatkan uang 5 juta per bulan tersebut?

Kita coba hitung saja. Berarti kalau Rp5.000.000 dibagi 30 hari, hasilnya kita bulatkan saja Rp170.000.

Berarti, dalam 1 hari, omzet kita harus Rp170.000.

Nah, kita harus menjual berapa pcs produk untuk mendapatkan omzet segitu? Kalau misalnya harga per pcs produk yang kita jual adalah Rp30.000, berarti dalam sehari kita harus menjual sekitar 5-6 produk.

Kalau diasumsikan setiap seorang pembeli membeli 1 produk, berarti kita harus mendatangkan 5-6 pembeli.

Kalau biasanya diantara 10 orang calon pembeli yang datang via WhatsApp, ada 1 orang yang akhirnya membeli; berarti kita harus mendatangkan 50-60 calon pembeli.

Kalau biasanya diantara 100 traffic yang melihat iklan produk kita itu ada 1 orang calon pembeli, berarti dalam sehari kita harus mendatangkan 5000-6000 traffic.

Nah, dari sini kita jadi bisa kita tentukan, berarti tugas kita dalam satu hari adalah bagaimana cara mendatangkan 5000-6000 traffic per hari?

  • Apakah posting artikel blog?
  • Atau share-share di Instagram?
  • Atau share-share di facebook?

Silahkan dibagi, berapa traffic yang datang dari blog, berapa yang dari Instagram, dan seterusnya.

Jadi, dari situ, kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan setiap hari.

Dari situ, kita bisa membuat action-plan.

Nah, itu contoh terkait jualan online. Silahkan Anda coba buat sendiri terkait persoalan lain seperti misalnya akademik, karier, atau yang lainnya.

Intinya, coba di-clear-kan dulu apa goal tujuan besar Anda.

Kalau sudah, coba dipecah langkah-langkahnya agar bisa menuju ke goal situ, hingga kemudian kita dapat apa yang harus kita lakukan, dan alat apa yang kita perlukan.

3. BERSEGERA MENGEKSEKUSINYA

BERSEGERALAH MENGEKSEKUSI action-plan Anda!

Jangan ditunda-tunda! Jangan pakai alasan-alasan!

- Advertisement -

Ini pola baku. Tidak bisa tidak, harus SEGERA MENGEKSEKUSI.

Tidak boleh kebanyakan “nanti-nanti”.

Ini pola suksesnya. Sudah terbukti, silahkan dicek saja. Faktanya mereka yang berprestasi itu, SEGERA MENGEKSEKUSI action-plan-nya.

Sebaliknya pula, banyak fakta mereka yang tak berprestasi itu adalah mereka yang TIDAK BERESEGERA mengeksekusi action-plan-nya. Karena terlalu banyak menunda-nunda. Terlalu banyak alasan.

Dari zaman dulu, hingga zaman sekarang; yah begitu:

  • Yang berhasil: Buat action-plan, SEGERA EKSEKUSI apa yang bisa dieksekusi. Jadinya dia berhasil.
  • Yang gagal: Buat action-plan, tapi nggak dieksekusi. Ditunda-tunda. Mau main game dulu, jalan-jalan dulu, nonton film dulu, ngemil dulu, berhias dulu, nanti dulu, ini dulu, itu dulu; akhirnya tak kunjung berjalan. Jadi jangan heran kenapa kok gitu-gitu aja nggak berhasil.

Dan kebetulan saya pribadi juga mengalami hal ini.

Beberapa kali saya menunda-nunda, akhirnya tak terasa sudah 1 bulan berlalu, 3 bulan sudah berlalu, bakan 1 tahun sudah berlalu; tujuan saya gagal tercapai.

Sedih juga sih….

Tapi tatkala saya paksa untuk segera mengeksekusi apa yang bisa dieksekusi, alhamdulillah mulai terlihat ada progress-nya.

Jadi, yah begitu. Harus SEGERA MENGEKSEKUSI.

Kalau hari ini Anda baru buat action-plan, usahakan pula hari ini sudah ada yang bisa Anda eksekusi. Meskipun itu baru hal yang sederhana. Pokoknya harus SEGERA.

Kesimpulannya

Biasanya, orang berprestasi itu ada ciri-cirinya.

Orang yang tak berprestasi, itu juga ada ciri-cirinya.

Nah, sekarang, coba kita lihat diri kita.

Pada diri kita ini, apakah mengandung ciri-ciri orang yang berprestasi?

Atau mengandung ciri-ciri orang yang tak berprestasi?

Kalau ternyata banyak mengandung ciri-ciri orang yang tak berprestasi, berarti harus kita balik saja.

Dengan begitu, insyaAllah kita jadi punya ciri-ciri orang berprestasi.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar

Mufakir adalah seorang otaku tobat yang merasa dirinya masih belum banyak bermanfaat bagi orang lain, dan berusaha selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. Baginya sukses itu sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin. Passion menulis artikel seputar motivasi dan produktivitas.